Harga minyak dunia melonjak secara signifikan pada awal pekan ini akibat eskalasi konflik di Timur Tengah yang melibatkan serangan terhadap kapal tanker dan gangguan jalur pengiriman utama. Para pelaku pasar menilai risiko tersebut bisa memperbesar gangguan pasokan jika ketegangan berlanjut. Kondisi geopolitik membuat volatilitas harga minyak meningkat dan memantapkan sentimen risiko pada komoditas energi.
Brent futures sempat menyentuh puncak intraday sekitar USD82,37 per barel, level tertinggi sejak Januari 2025, menandai respons kuat pasar terhadap eskalasi regional. Pergerakan ini juga mencerminkan kekhawatiran terhadap kelangsungan aliran minyak menuju pasar utama. Meski kemudian terjadi koreksi sebagian, lonjakan dini tersebut menunjukkan momentum kenaikan harga yang signifikan.
Di pasar berjangka, Brent terpantau berada di sekitar USD78,24 per barel pada pukul 07.54 WIB, naik sekitar 7,37 persen. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate WTI bergerak mendongak mendekati puncak baru, dengan sesi pagi di kisaran USD71,68 per barel. Pergerakan ini menegaskan adanya permintaan pembeli yang responsif terhadap berita geopolitik dan asumsi gangguan pasokan.
Ketegangan di perairan Teluk memperbesar risiko gangguan pasokan minyak secara lintas batas. Serangan terhadap kapal tanker di sekitar Teluk menimbulkan kekhawatiran bahwa jalur perdagangan utama dapat terganggu dalam waktu dekat. Keamanan maritim menjadi fokus utama bagi pembeli dan produsen minyak yang mengandalkan rute pengiriman global.
Dalam rapat terakhir, OPEC+ sepakat menaikkan produksi sebesar 206.000 barel per hari untuk April, langkah yang dimaksudkan untuk menyesuaikan pasokan dengan permintaan dunia yang masih rapuh. Para analis mencatat bahwa sebagian besar produsen berada di batas kapasitas, sehingga peningkatan tambahan mungkin terbatas jika situasi geopolitik memburuk. Pasar menilai kebijakan ini sebagai sinyal upaya menenangkan harga tanpa menimbulkan tekanan berlebih pada inventori.
Analisis para ahli menunjukkan kapasitas cadangan yang terbatas untuk menutupi potensi gangguan besar pada jalur pasokan utama. Risiko terhadap pelayaran komersial meningkat dalam 24 jam terakhir, menambah ketidakpastian bagi pembeli global. Kondisi ini memberi warna pada pasar yang sudah reaktif terhadap berita Timur Tengah dan memperkuat kebutuhan akan cadangan strategis sebagai penyangga harga.
IEA secara aktif memantau perkembangan di Timur Tengah dan menjalin komunikasi dengan produsen serta negara-negara anggota untuk menjaga keseimbangan pasar. Lembaga ini menyiapkan opsi pelepasan cadangan minyak strategis jika diperlukan untuk menurunkan volatilitas harga. Cetro Trading Insight menilai dinamika ini sebagai contoh bagaimana faktor geopolitik dapat menjadi pendorong utama gerak harga minyak dalam jangka pendek.
Kebutuhan akan cadangan strategis menjadi bagian penting dari respons global, terutama jika jalur utama kembali beroperasi. IEA dan negara maju telah mempersiapkan koordinasi pelepasan cadangan untuk menstabilkan harga dalam situasi darurat. Meski demikian, pasar tetap menghadapi ketidakpastian karena perubahan kepemimpinan di beberapa wilayah dan dinamika program rudal.
Analisis oleh Goldman Sachs menunjukkan total persediaan minyak global terlihat mendekati median historis jika dinyatakan setara dengan sekitar 74 hari permintaan global. Pasar berpotensi mendapat dukungan saat Selat Hormuz dibuka kembali dan produksi global memulih. Secara keseluruhan, minyak tetap sensitif terhadap perubahan geopolitik meskipun ada tanda-tanda perbaikan pasokan di masa depan.