
Ledakan minat investor pasca-libur terlihat dari kenaikan harga minyak sawit mentah (CPO) pada perdagangan Kamis, lebih dari satu persen. Kontrak Agustus di Bursa Malaysia Derivatives Exchange naik 1,20 persen menjadi 4.550 ringgit per ton pada pukul 15.13 WIB. Menurut analisis Cetro Trading Insight, momentum ini mencerminkan gabungan dinamika harga minyak mentah, minyak nabati pesaing, dan sikap pasar yang relatif berhati-hati setelah libur panjang.
Anilkumar Bagani, Kepala Riset Komoditas Sunvin Group berbasis di Mumbai, menjelaskan bahwa pergerakan harga CPO sejalan dengan kenaikan harga energi secara global, termasuk kontrak minyak nabati China dan minyak kedelai di Chicago. Sentimen pasar saat ini dipandang sebagai respons terhadap faktor-faktor fundamental yang membentuk biaya produksi dan persaingan antara minyak nabati di pasar global.
Dalam telaah kami, fenomena El Niño menjadi faktor pendukung sekaligus menjaga kehati-hatian pelaku pasar. Cetro Trading Insight menilai skenario cuaca ekstrem ini berpotensi mempengaruhi produksi kelapa sawit, sehingga sentiment positif terhadap CPO tetap relevan meski volatilitas tetap tinggi. Kenaikan harga sawit juga didorong oleh prospek biodiesel sebagai alternatif bahan bakar, ditopang pelemahan nilai tukar ringgit yang membuat CPO lebih menarik bagi pembeli asing.
Minyak kedelai dan minyak nabati global turut memberi dorongan pada pergerakan CPO. Kontrak minyak kedelai paling aktif di Dalian naik 0,75 persen, sementara harga minyak sawitnya juga naik 0,9 persen, menegaskan pola saling mengikuti antara minyak nabati di berbagai pasar utama. Segmen ini menggarisbawahi bagaimana dinamika harga komoditas nabati saling memicu satu sama lain dalam ekosistem perdagangan global.
Di sisi energi, lonjakan harga minyak mentah lebih dari 3 persen terjadi setelah Garda Revolusi Iran menyatakan target terhadap basis udara AS sebagai respons atas serangan di wilayah sekitar bandara Bandar Abbas. Lonjakan tersebut memperkuat argumen bahwa pasar energi global tetap rentan terhadap risiko geopolitik, sekaligus meningkatkan daya tarik CPO sebagai alternatif bahan bakar biodiesel yang kompetitif dalam konteks biaya produksi yang fluktuatif.
Data perdagangan dan neraca impor UE turut membentuk lanskap permintaan. Komisi Eropa melaporkan impor kedelai UE untuk musim 2025/2026 yang dimulai Juli mencapai 11,95 juta ton hingga 24 Mei, turun sekitar 8% YoY. Sementara itu, impor minyak sawit UE turun sekitar 4% menjadi 2,55 juta ton. Ringgit Malaysia melemah sekitar 0,45% terhadap dolar AS, sehingga CPO menjadi lebih murah bagi pembeli yang memakai mata uang asing. Di sisi regulasi, Menteri Keuangan Indonesia Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan Wilmar International dan Musim Mas Group tengah diselidiki terkait dugaan praktik under-invoicing ekspor, sebuah dinamika yang dapat mempengaruhi persepsi risiko operasional bagi pemain besar di rantai pasokan.