Di tengah dinamika kebijakan ESDM dan komitmen pemangkasan produksi nikel Indonesia, harga logam bergejolak. Investor global memperhatikan sinyal bahwa pasokan bijih akan semakin terbatas. Cetro Trading Insight memantau bagaimana langkah pemerintah memproyeksikan arah harga dan volatilitas di pasar komoditas utama baterai.
Menurut pernyataan pejabat ESDM pada 14 Januari, kuota izin pertambangan tahunan ditetapkan 250-260 juta ton basah, turun signifikan dari 379 juta ton pada 2025. Kebijakan ini menandai fase pengetatan pasokan yang bisa menyokong tekanan harga. Segera, produsen nikel dan pelaku industri sedang menilai bagaimana alokasi kuota akan mempengaruhi arus produksi dan rantai pasokan global.
Sebagai produsen nikel terbesar di dunia, Indonesia memainkan peran kunci dalam dinamika harga global logam ini. Dampak kebijakan tersebut akan terasa pada harga, biaya produksi, dan strategi perusahaan yang mengandalkan nikel untuk baterai kendaraan listrik. Pasar global tetap cermat menilai apakah langkah Indonesia bisa mengubah keseimbangan antara pasokan dan permintaan dalam beberapa kuartal ke depan.
Goldman Sachs meningkatkan proyeksi rata-rata harga nikel 2026 menjadi USD 17.200 per ton, naik dari USD 14.800 sebelumnya. Angka tersebut didasarkan pada asumsi pasokan bijih Indonesia menipis menuju sekitar 260 juta ton. Laporan ini juga menyoroti bagaimana pasar bereaksi terhadap pengumuman kebijakan yang menekan output.
Goldman memperkirakan harga bisa mencapai sekitar USD 18.700 per ton pada kuartal II 2026 jika kondisi pasokan tetap ketat. Mereka menilai kelangkaan bijih akan menopang harga di level itu selama beberapa bulan. Sementara itu, pasar nikel akan berada dalam posisi surplus tipis sekitar 191.000 ton setelah ada penyesuaian produksi.
Namun Goldman memprediksi pasokan akan kembali meningkat pada paruh kedua tahun ini setelah adanya persetujuan tambahan yang mendorong produksi mendekati 300 juta ton. Proyeksi ini diperkirakan mengubah pasar nikel olahan menjadi surplus dan menekan harga menuju sekitar USD 15.500 per ton pada akhir 2026. Risiko volatilitas tetap ada seiring dinamika kebijakan dan permintaan baterai masih berubah.
Macquarie menaikkan pandangan terhadap nikel 2026 menjadi rata-rata USD 17.750 per ton, dari USD 15.000 sebelumnya. Riset mereka menyoroti dampak bersih dari kebijakan pengetatan pasokan Indonesia terhadap keseimbangan pasar global. Analisis ini juga menyertakan estimasi perubahan surplus global di tengah volatilitas harga.
Perkiraan Macquarie menunjukkan surplus pasar menurun menjadi sekitar 90.000 ton dibandingkan 250.000 ton sebelumnya. Penurunan surplus ini meningkatkan tekanan harga dan memperkuat pandangan kenaikan jangka menengah. Mereka juga menilai faktor permintaan baterai dan dinamika produksi otomotif listrik sebagai pendorong utama.
Mereka juga berasumsi pemerintah Indonesia akan menyempurnakan kebijakan RKAB untuk mengarahkan harga nikel di kisaran USD 18.000 per ton. Dengan kebijakan yang lebih akurat, pasar bisa menjaga level tersebut meski ada variasi produksi. Harga di pasar global kemungkinan tetap fluktuatif seiring perubahan regulasi dan permintaan baterai.
Pada perdagangan Selasa, harga nikel di London Metal Exchange ditutup sekitar USD 17.447 per ton.