Nomura: ECB Diperkirakan Menahan Suku Bunga Depo di 2.00% pada Rapat 19 Maret; Juni Berpotensi Kenaikan Bertahap

Nomura: ECB Diperkirakan Menahan Suku Bunga Depo di 2.00% pada Rapat 19 Maret; Juni Berpotensi Kenaikan Bertahap

trading sekarang

Analisis dari Nomura menunjukkan bahwa ECB diperkirakan mempertahankan suku bunga depo di 2.00% pada rapat 19 Maret. Mereka menekankan bahwa bank sentral utama tidak akan bereaksi berlebihan terhadap konflik Iran, melainkan menilai dampak nyata terhadap ekonomi dan bagaimana hal itu mempengaruhi ekspektasi inflasi. Laporan ini disusun oleh Cetro Trading Insight untuk menjelaskan konteks kebijakan ini.

Dalam pandangan mereka, data HICP untuk Maret 2026 diperkirakan menunjukkan dampak signifikan dari konflik tersebut, dengan kenaikan sekitar 0.5–0.7 poin persentase. Mereka juga menaikkan proyeksi untuk Maret 2026 sebesar 0.6 poin menjadi 2.5% YoY. Meskipun demikian, proyeksi ini tidak dianggap sebagai alasan untuk langkah darurat pada bulan April.

Lagarde diprediksi bisa mengecekan pasar sedikit dengan nuansa dovish, menekankan bahwa inflasi HICP akan stabil menuju target ECB pada horizon proyeksi (Q4 2028). Namun, para analis menegaskan bahwa Komite akan menghindari pengulangan volatilitas seperti pada krisis energi 2022. Pembahasan mengenai kenaikan suku bunga hanya akan terjadi jika gangguan secara nyata mendorong inflasi secara persisten atau ekspektasi inflasi terangkat. Oleh karena itu, Juni dinilai sebagai waktu paling awal untuk potensi langkah kenaikan, dan jika terjadi, kemungkinan dua kenaikan.

Kebijakan ECB tetap menunggu bukti dampak riil terhadap ekonomi dan bagaimana hal itu membentuk ekspektasi inflasi. Rapat 19 Maret diperkirakan akan berakhir tanpa perubahan kebijakan, sambil menilai bagaimana konflik Iran mempengaruhi dinamika harga di zona euro. Pasar menilai bahwa Juni adalah jendela risiko untuk kenaikan pertama jika data inflasi tetap panas.

Para analis menekankan bahwa keputusan ECB akan sangat bergantung pada data inflasi inti dan tekanan biaya produksi. Mereka juga menilai bahwa langkah-langkah komunikasi dari Bank Sentral akan penting untuk menjaga ekspektasi inflasi agar tetap terarah. Dalam konteks ini, risiko geopolitik bisa mempercepat penyempurnaan jalur kebijakan bila data ekonomi mendukungnya.

Jika konflik Iran memburuk atau efek pass-through menjadi lebih kuat dari perkiraan, jalur kebijakan bisa lebih hawkish. Namun, perlu dicatat bahwa rencana kenaikan pada Juni masih bergantung pada bukti inflasi yang persisten dan stabilitas ekspektasi. Para investor disarankan memetakan skenario berbeda dan menilai bagaimana data baru mengubah garis kebijakan.

Berikutnya, pergerakan EURUSD dan pasar obligasi akan sangat dipengaruhi oleh kejelasan jalur kebijakan ECB. Sinyal kebijakan yang konsisten dengan rencana untuk menahan suku bunga dapat menahan volatilitas jangka pendek. Namun, dinamika inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan menambah risiko bagi euro dan aset berdenominasi euro.

Secara umum, para analis menekankan perlunya fokus pada data inflasi, pertumbuhan ekonomi, serta diskusi komunikasi bank sentral. Investor perlu memantau rilis HICP, data pekerjaan, serta perkembangan konflik internasional untuk menilai peluang dan risiko. Yang diperlukan adalah pemahaman bagaimana ekspektasi inflasi terbentuk dan bagaimana hal itu mempengaruhi harga aset berisiko maupun non-berisiko.

Rasio risk-reward untuk skenario ini dipertimbangkan sekitar 1:1.5, dengan potensi keuntungan jika data inflasi mengarah pada pemangkasan risiko atau pengetatan kebijakan. Dalam kasus tidak berubahnya jalur kebijakan, EURUSD bisa bergerak sideways, namun jika ada bukti inflasi yang lebih tegas, pasangan ini berpotensi menguji level resistance. Selalu prioritaskan manajemen risiko dan peninjauan ulang terhadap kebijakan komunikatif bank sentral.

broker terbaik indonesia