
NZD/USD melemah sekitar 0.5635 pada sesi Asia Jumat, menambah tekanan pada pasangan mata uang ini. Pasar tetap memperhitungkan kemungkinan kenaikan suku bunga Federal Reserve pada September. ASB Bank menggeser pandangannya dari kenaikan Juli menjadi jeda pada pertemuan mendatang.
Pergerakan NZD tertekan oleh risiko geopolitik di Timur Tengah dan ekspektasi kebijakan moneter AS yang lebih hawkish. Gelombang jual berlanjut hingga pasangan ini berada mendekati level terendah sejak akhir November 2025. Kondisi ini memberi sinyal bahwa pelemahan NZD mungkin berlanjut jika data ekonomi AS tetap kuat.
Data ekonomi AS yang dirilis menambah dinamika pasar. Angka PCE (harga pengeluaran konsumsi pribadi) naik 4.1% secara tahunan pada Mei, jauh melampaui target The Fed. Core PCE, ukuran inflasi utama Fed, naik 3.4% YoY dan mencapai tingkat tertinggi sejak Oktober 2023. Sementara itu, pertumbuhan GDP AS Q1 mencapai 2.1% secara tahunan, memperkuat prospek memperketat kebijakan. Pasar memperkirakan tiga kenaikan suku bunga tahun ini dan memposisikan probabilitas kenaikan pada September sekitar 63%, menurut CME FedWatch.
Data PCE AS Mei menunjukkan tekanan inflasi yang masih meningkat. PCE harga yoy 4.1% dan core PCE 3.4% YoY menandakan inflasi melebar lebih dari target 2%. Bank sentral AS ini memperkuat pandangan pasar tentang perlunya pengetatan kebijakan yang berkelanjutan, dengan pelaku pasar memperkirakan tiga kenaikan suku bunga tahun ini.
Di sisi kebijakan, Bank Cadangan Selandia Baru menahan OCR di 2.25% pada pertemuan Mei, memberikan ruang bagi bank sentral untuk menilai data lebih lanjut. Banyak analis menilai jeda Juli sebagai langkah berhati-hati sebelum melangkah pada kenaikan bertahap mulai September, dengan proyeksi OCR mencapai 3.25% pada awal 2027. Ketegangan tersebut memperkuat perbedaan kebijakan antara AS dan NZ, mendukung arah potensi NZD melemah terhadap USD.
Terhadap NZD/USD, kebijakan AS yang lebih agresif dan keluarnya data makro yang kuat berpotensi menjaga tekanan pada pasangan ini. ASB Bank dan analis lain menilai jangka waktu hingga September sebagai fase data memungkingkan reaksi pasar. Meski RBNZ menunjukkan ruang untuk bertindak, dinamika global dan aliran modal masih lebih condong ke dolar AS dalam jangka pendek.
Strategi perdagangan yang layak adalah mempertimbangkan posisi jual NZDUSD ketika harga mendekati 0.5635 dengan potensi turun ke sekitar 0.5580. Target keuntungan sekitar 0.5580 memberikan risiko imbalan lebih dari 1:1,5 dibanding jarak stop loss sekitar 0.0035 poin hingga 0.5670. Aspek fundamental tetap mendominasi, yakni ekspektasi kenaikan suku bunga AS yang menekan NZDUSD.
Pengaturan risiko perlu diperhatikan karena volatilitas dapat meningkat menjelang keputusan bank sentral dan data inflasi berikutnya. Rilis data PCE, GDP, dan pernyataan kebijakan Fed menjadi faktor penentu arah pasangan mata uang ini. Investor disarankan untuk memperhatikan perubahan harga secara real-time dan mempertimbangkan manajemen risiko yang ketat.
Artikel ini disusun oleh Cetro Trading Insight untuk pembaca di Indonesia. Cetro berkomitmen menyajikan analisis pasar yang informatif dan tepercaya, dengan fokus pada konteks makro dan dinamika teknikal. Tetap pantau laporan resmi dan perkembangan kebijakan karena volatilitas FX tetap tinggi.