
NZD/USD telah memperpanjang penurunan selama tujuh hari perdagangan berturut-turut dan diperdagangkan sekitar 0.5640. Level ini mendekati posisi terendah sejak November 2025, selaras dengan dominannya dolar AS yang tetap kuat di pasar global. Indeks DXY, ukurannya terhadap keranjang mata uang utama, berada pada level tertinggi sejak Mei 2025 setelah Federal Reserve menunjukkan pola kebijakan yang lebih defensif terhadap inflasi.
Sentimen pasar tetap rapuh karena risiko aversi terhadap risiko di seluruh pasar keuangan. Terjadi peningkatan peluang pasar akan kenaikan suku bunga di September, tercermin dari pergeseran harga futures yang memperkirakan peluang kenaikan sekitar 65% sesuai alat CME FedWatch. Hal ini menambah tekanan pada NZD/USD karena ekspektasi monetari AS tetap membayang-bayang di atas.
Di samping itu, peristiwa geopolitik seputar program nuklir Iran dan pengelolaan Selat Hormuz menambah volatilitas pada mata uang berisiko. Sementara itu, pelonggaran harga minyak mentah memberikan lapisan ambiguitas terhadap ekspektasi kebijakan moneter, karena penurunan biaya energi bisa menekan tekanan inflasi pada jangka pendek. Laporan ini disusun oleh Cetro Trading Insight.
RBNZ mempertahankan bias restriktif, menandakan keberlanjutan jalur kebijakan yang lebih ketat untuk menjaga inflasi tetap terkendali. Bank sentral diperkirakan bisa mencapai OCR sekitar 2.85% pada akhir tahun, dengan kemungkinan tiga kenaikan tambahan. Kebijakan yang hawkish ini menambah dukungan bagi NZD meski pelaku pasar tetap berhati-hati terhadap pergerakan jangka pendek.
Paralel dengan itu, sikap hawkish Federal Reserve menambah dinamika pergerakan dolar AS. Pasar obligasi dan proyeksi futures mengindikasikan peluang lebih besar untuk kenaikan suku bunga di masa mendatang. Kondisi ini memperkuat daya tarik dolar dan menambah tantangan bagi NZD/USD untuk bertahan di wilayah di bawah jika faktor eksternal tetap mendominasi.
Di sisi domestik, sinyal dari RBNZ menunjukkan kesiapan untuk menyesuaikan kebijakan melalui rute kenaikan OCR guna mengendalikan inflasi. Namun, arah pergerakan NZD sangat bergantung pada bagaimana pasar mengevaluasi retorika dan tindakan kebijakan AS serta data inflasi yang akan datang. Laporan ini disusun oleh Cetro Trading Insight.
Perhatian utama pasar saat ini adalah data PCE AS yang menjadi ukuran inflasi utama bagi bank sentral. Konsensus menunjukkan inflasi PCE inti dan headline berada pada level yang naik, dengan indikasi 4.1% YoY untuk headline dan 3.4% YoY untuk inti pada Mei. Jika data menunjukkan angka lebih kuat dari ekspektasi, maka kasus untuk kenaikan suku bunga di kemudian hari akan semakin kuat dan bisa memberi dorongan tambahan pada dolar AS, memperpanjang tekanan pada NZD/USD.
Di sisi lain, pelonggaran harga minyak mentah menciptakan ketidakpastian terhadap prospek inflasi dan kebijakan moneter. Normalisasi perdagangan melalui Selat Hormuz serta izin penjualan minyak Iran selama 60 hari bisa menahan tekanan inflasi di hulu, yang pada akhirnya dapat menahan lonjakan dolar dalam jangka pendek jika pasar melihat sinyal penurunan tekanan inflasi. Para trader disarankan untuk menilai risiko terkait data inflasi dan pergerakan dolar, sembari mengikuti arahan kebijakan yang berkembang.
Terakhir, dinamika geopolitik dan data inflasi AS menjadi fokus utama untuk positioning. Dengan kondisi saat ini, sinyal trading cenderung lebih condong ke arah jual (sell) bagi NZDUSD, mengingat ekspektasi kenaikan suku bunga AS yang lebih tajam dan kekuatan dolar yang berkelanjutan. Namun, trader perlu memperhatikan potensi perubahan arah jika data PCE menunjukkan pelemahan inflasi atau pergeseran kebijakan, sesuai dengan prinsip risiko-imbangan 1:1.5 sebagai pedoman reward-risk. Laporan ini disusun oleh Cetro Trading Insight.