Bayangkan sebuah lonceng Bursa Efek Indonesia yang berdering lebih nyaring, menandai era baru di mana arus modal publik dan alokasi investasi berkapital meningkat. Otoritas Jasa Keuangan menyalakan sinyal akselerasi bagi investasi institusional untuk memperdalam pasar saham. Kebijakan terbaru memfokuskan peningkatan kepemilikan publik melalui struktur free float yang lebih transparan.
Kebijakan menaikkan free float menjadi 15 persen dipandang sebagai pintu gerbang bagi pemegang saham publik untuk berbagi kepemilikan secara signifikan. Pertimbangannya jelas: dengan free float 15 persen, emiten berpotensi menarik partisipasi investor publik secara lebih luas dan menciptakan dinamika permintaan yang lebih stabil. Hal ini juga menyiratkan komitmen berkelanjutan perusahaan untuk menjaga akses modal yang lebih terbuka.
Namun, tantangan utama adalah kapasitas pasar untuk menyerap pasokan tambahan saham. Issu utama adalah seberapa luas pasar dapat menyerap aliran saham baru tanpa tekanan harga. Pemerintah dan otoritas menilai kapasitas serap pasar sebagai pekerjaan rumah yang memerlukan langkah dukungan infrastruktur dan kebijakan yang tepat.
Sasaran kebijakan ini adalah emiten dengan kapitalisasi pasar di atas Rp5 triliun, menandai fokus pada likuiditas dan kualitas saham. Kebijakan ini memposisikan saham dengan ukuran pasar menengah hingga besar sebagai pintu utama untuk aliran investasi institusional.
Selain itu, pemerintah membuka peluang bagi lembaga seperti Taspen dan Asabri untuk meningkatkan alokasi investasi di saham hingga 15 persen, sehingga ada permintaan baru dari investor domestik dan meningkatnya likuiditas pasar. Ruang ini diharapkan memperkaya variasi pilihan bagi investor institusional sambil menjaga standar kepatuhan perusahaan terhadap bursa.
Pembatasan terhadap saham berkapitalisasi terlalu kecil tetap dipertahankan; ada batasan minimum kapitalisasi pasar sebesar Rp5 triliun untuk saham yang dapat menjadi tujuan investasi. Ini bagus karena akan menjadi tambahan demand baru dari investor domestik dan menjaga fokus pada saham dengan scale yang memadai.
Ke depan, OJK membuka peluang perluasan kebijakan serupa ke BPJS Ketenagakerjaan, yang diketahui merupakan salah satu sumber demand cukup signifikan dan akan menambah likuiditas di pasar kita. Keberlanjutan kepemilikan publik di saham nyatanya dapat menstabilkan likuiditas jangka panjang.
Cetro Trading Insight menilai langkah ini sebagai sinyal fundamental yang berpotensi meningkatkan kualitas pasar dengan aliran modal institusional yang lebih terkendali dan terukur. Kami melihat peluang bagi emiten besar untuk menarik investasi jangka panjang sambil memperbaiki struktur kepemilikan.
Walau prospeknya positif, ada kekhawatiran terkait kapasitas pasar menyerap pasokan saham baru dan bagaimana reaksi harga jangka pendek. Investor institusional perlu menilai peluang serta risiko terkait kepemilikan publik yang lebih besar, sementara pelaku pasar menyiapkan strategi eksekusi yang tepat untuk memanfaatkan dinamika likuiditas baru.