
Di bawah arahan Cetro Trading Insight, Jayamas Medica Industri Tbk (OMED) menggelar RUPST dan RUPSLB untuk merinci kinerja dan arah masa depan. Dalam momen evaluasi kinerja 2025, pemegang saham menyetujui laporan keuangan serta rencana operasional 2026. Langkah ini dipandang sebagai penegasan komitmen perusahaan menjaga posisi kompetitif di pasar alat kesehatan domestik meski dinamika ekonomi berubah. Berbagai pihak menilai bahwa transparansi rapat seperti ini penting bagi investor untuk memahami strategi jangka pendek dan jangka panjang OMED.
Dividen tunai final sebesar Rp110,4 miliar atau Rp4,08 per saham disahkan, sebagai bagian dari kebijakan imbal hasil kepada pemegang saham. Pembayaran ini mencerminkan arus kas yang sehat dan kemampuan perusahaan untuk membagikan keuntungan tanpa mengorbankan investasi inti. Manajemen menegaskan bahwa kebijakan dividen rutin mendukung kepercayaan investor dan memberikan fondasi stabil bagi penilaian nilai perusahaan di pasar.
Saat bersamaan, RUPSLB menyetujui pengalihan saham treasuri untuk program kepemilikan saham (MESOP) bagi karyawan, direksi, dan dewan komisaris. Proses ini memiliki batasan dengan jumlah maksimal 17 juta saham dan harga pelaksanaan yang menyesuaikan nilai wajar grant date, sambil diberlakukan lock-up 12 bulan untuk menjaga kepatuhan serta stabilitas program.
Menghadapi 2026, OMED menegaskan tiga pilar strategi utama. Pertama, perusahaan menargetkan produksi intraocular lens (IOL) secara massal pada kuartal keempat 2026, menghadirkan solusi satu paket untuk penanganan katarak melalui prosedur penggantian lensa yang aman dan efektif. Upaya ini menandai peningkatan kapasitas manufaktur dan peluang ekspansi ke pasar domestik maupun ekspor di masa mendatang. Poin ini juga dipandang sebagai langkah untuk memperluas portofolio produk ophthalmic devices yang strategis.
Kedua, OMED akan memperluas jaringan ritel dengan model omnichannel di beberapa kota, termasuk pembukaan OneMed Medicom di Purwokerto, Jawa Tengah. Langkah ini bertujuan memperluas akses pasien terhadap produk kesehatan habis pakai dan memperkuat distribusi ke rumah sakit serta klinik mitra. Inisiatif omnichannel diharapkan meningkatkan efisiensi operasional serta meningkatkan kepuasan pelanggan melalui layanan terintegrasi.
Ketiga, perseroan mempercepat pembangunan National Distribution Center (NCD) di Pulo Gadung, Jakarta, yang ditargetkan beroperasi pada 2026. Fasilitas logistik ini direncanakan meningkatkan efisiensi rantai pasok serta mengurangi waktu pengiriman ke rumah sakit dan klinik mitra. Proyek NCD diharapkan mendorong margin melalui skala ekonomi dan peningkatan kapasitas penanganan inventori.
Di tengah gejolak nilai tukar, OMED menekankan bahwa produknya adalah alat kesehatan habis pakai yang relatif tidak sensitif terhadap fluktuasi makroekonomi. Dengan portofolio yang berfokus pada produk consumable, arus kas operasional diperkirakan lebih stabil dibandingkan sektor yang sangat terpapar volatilitas mata uang. Strategi manajemen risiko juga mencakup diversifikasi pemasok dan mitigasi biaya impor agar tidak mengganggu kinerja keuangan.
Basis pelanggan OMED telah berkembang menjadi lebih dari 2.000 rumah sakit dan klinik dengan loyalitas tinggi, sebuah faktor kunci yang membantu menjaga arus kas dan pendapatan berkelanjutan di masa mendatang. Hal ini juga memperkuat posisi perusahaan dalam menghadapi dinamika pasar dan persaingan yang tetap ketat. Keberlanjutan hubungan dengan mitra distribusi menjadi aset utama bagi strategi pertumbuhan jangka menengah.
Posisi kas perusahaan tercatat sekitar Rp1,3 triliun dengan rasio utang berbunga terhadap ekuitas hanya 0,01 kali. Struktur neraca yang sehat menawarkan fleksibilitas pendanaan untuk ekspansi, termasuk investasi yang terkait IOL, ritel, dan fasilitas logistik. Perusahaan menegaskan kesiapan menghadapi potensi kenaikan biaya impor akibat pelemahan rupiah sambil menjaga kelancaran operasional pada level yang tinggi.