Di tengah lonjakan belanja kesehatan nasional, OneMed menatap masa depan dengan target pendapatan Rp2,3 triliun pada 2026. Pasar alat kesehatan di Indonesia masih menunjukkan momentum pertumbuhan, didorong kebutuhan klinis dan kepastian pasokan rumah sakit. Kebijakan pemerintah kini menempatkan aksesibilitas dan keberlanjutan sistem kesehatan sebagai prioritas utama, membuka peluang bagi produsen alat kesehatan seperti OMED.
Selama Januari-September 2025, OMED berhasil meraih pendapatan Rp1,47 triliun, meningkat 7,8 persen dibanding periode sama tahun sebelumnya. Kinerja ini didorong oleh permintaan dari sektor kesehatan nasional maupun segmen swasta yang semakin menuntut solusi alat kesehatan. OMED menunjukkan keyakinan bahwa permintaan domestik akan tetap kuat meski tantangan biaya kesehatan mencuat.
Perusahaan menegaskan margin laba kotor akan dipertahankan di kisaran 30 persen. Sedangkan sektor ekspor alat kesehatan diperkirakan mencapai USD1-1,5 juta, memberikan kontribusi pendapatan tambahan di luar pasar domestik. Dalam laporan resmi, OMED menegaskan fokus pada efisiensi operasional dan layanan purna jual untuk menjaga kepuasan pelanggan.
Untuk menjaga pertumbuhan jangka panjang, OMED mengalokasikan belanja modal sebesar Rp62 miliar pada 2026. Investasi ini bertujuan meningkatkan kapasitas produksi dan memperkuat rantai pasokan di dalam negeri. Penopang utama strategi adalah ekspansi fasilitas Mojoagung dan Krian serta pengembangan National Distribution Center di Jakarta.
Penambahan mesin produksi di kedua fasilitas akan memperluas kapasitas output dan menurunkan biaya per unit melalui skala ekonomi. Selain itu, NDC di Pulo Gadung akan mempercepat distribusi ke wilayah Jabodetabek dan Jawa Barat, meningkatkan kualitas layanan kepada pelanggan.
Pengembangan infrastruktur logistik ini adalah bagian dari upaya OMED menjaga efisiensi dan layanan pelanggan, sambil menyiapkan operasional yang lebih andal untuk permintaan di masa depan. Cetro Trading Insight menilai langkah ini sebagai sinyal positif bagi kemampuan perusahaan mengelola volume yang lebih besar sambil mempertahankan margin. Dengan fokus pada inovasi dan proses, OMED berharap mempercepat margin dan kepuasan klien.
Dukungan kebijakan kesehatan nasional menjadi pondasi penting bagi OMED, dengan anggaran kesehatan naik dari Rp211 triliun pada 2025 menjadi Rp244 triliun pada 2026. Kebijakan ini menekankan peningkatan aksesibilitas, keterjangkauan, dan keberlanjutan sistem kesehatan, yang pada gilirannya meningkatkan peluang sukses bagi produsen alat kesehatan dalam negeri.
Layanan kesehatan swasta diperkirakan tetap resilien, didorong oleh permintaan layanan dengan kompleksitas lebih tinggi, layanan non BPJS, produk consumable medic, serta pengembangan infrastruktur kesehatan.
Namun paparan biaya dan tekanan pendanaan tetap menjadi risiko, karena rasio klaim dapat melampaui penerimaan iuran. OMED menghadapi tantangan tersebut sambil berupaya menjaga pertumbuhan melalui efisiensi biaya, diversifikasi produk, dan ekspansi kapasitas. Secara umum, prospek jangka menengah dianggap positif meskipun dinamika fiskal perlu dipantau.