Tanpa rilis data makro berkelas tinggi, arah pasar lebih dipengaruhi dinamika konflik regional di Timur Tengah serta komentar pejabat kebijakan moneter yang dinantikan para pelaku pasar. Ketidakpastian geopolitik menjadi elemen utama yang dapat menambah volatilitas pada aset berisiko.
Investor juga menantikan pandangan terbaru dari pejabat Federal Reserve menjelang akhir pekan untuk menilai arah kebijakan suku bunga serta probabilitas penyesuaian di masa mendatang. Pensinyalan kebijakan tersebut berpotensi menggeser aliran modal antara aset berisiko dan instrumen perlindungan nilai.
Secara umum, gerak di pasar ekuitas terlihat berfluktuasi dengan tekanan risiko yang masih ada. Indeks utama AS, misalnya, menunjukkan pelemahan dengan S&P 500 turun sekitar 1.75% dan Nasdaq Composite merosot mendekati 2.5% pada hari tersebut.
Dalam sebuah unggahan, Presiden AS menyampaikan pandangan mengenai Iran yang dinilai telah meminta kesepakatan, sebuah narasi yang menambah tensi pada suasana sesi Asia. Reaksi pasar atas narasi tersebut cenderung menguatkan fokus pada risiko geopolitik dan potensi dampaknya terhadap likuiditas global.
Menurut laporan awal Wall Street Journal yang mengutip mediator, Iran belum mengajukan permintaan penundaan 10 hari dan belum memberikan respons akhir terhadap rencana 15 poin dari AS. Ketidakpastian semacam ini memperpanjang fase volatilitas bagi investor yang menimbang risiko regional.
Di samping itu, indeks dolar AS tetap berada dalam fase konsolidasi sekitar level 100.00, sementara minyak mentah berusaha bergerak lebih tinggi di atas 93.50 dolar per barel. Perkembangan ini mencerminkan bagaimana risiko geopolitik berpotensi mempengaruhi likuiditas dan arah pergerakan aset kelas lain.
Secara mata uang utama, EURUSD mencoba rebound namun tetap berada di bawah 1.1550, sedangkan GBPUSD tertekan dan diperdagangkan di bawah 1.3350 setelah beberapa hari penutupan negatif. Pergerakan ini mencerminkan kebijakan moneter dan dinamika prospek ekonomi regional yang sedang dipantau para analis.
USD/JPY melanjutkan tren kenaikan menuju sekitar 160.00, didorong oleh pandangan BoJ bahwa tingkat natural rate suku bunga sulit dipatok secara presisi dan memerlukan evaluasi menyeluruh terhadap aktivitas ekonomi, harga, serta perkembangan finansial. Kondisi ini menambah tekanan bagi yen untuk mempertahankan posisi terhadap greenback.
Sementara itu AUDUSD turun ke level rendah sejak Januari akhir, menembus sekitar 0.69, dan WTI kembali berada di atas 93.50 dolar per barel. Di sisi data ritel, Inggris melaporkan penurunan 0.4% pada Februari meski hasilnya lebih baik dari ekspektasi. Kondisi ini menandai tantangan berkelanjutan bagi konsumsi rumah tangga di beberapa wilayah.