
Bayangkan sebuah peta kredit UMKM yang tidak lagi dibatasi oleh laporan SLIk OJK semata. Temuan terbaru dari Pefindo menunjukkan bahwa data keuangan alternatif—mulai dari pembayaran digital, verifikasi pendapatan, hingga riwayat transaksi antara UMKM dengan supplier—berpotensi mengguncang pola pembiayaan konvensional. Dalam laporan analisis ini, Cetro Trading Insight membedah bagaimana data baru bisa melipatgandakan akses modal bagi puluhan ribu pelaku usaha kecil.
PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) Biro Kredit menilai bahwa penyaluran kredit ke UMKM bisa meningkat jika ada penilaian catatan keuangan yang komprehensif, tidak hanya mengandalkan SLIk OJK maupun riwayat pembayaran tagihan telekomunikasi. Persoalan ini menjadi fokus utama pembahasan di kantor Pefindo, Jakarta, saat briefing pada Selasa (28/4/2026). Data alternatif hadir sebagai peluang untuk meningkatkan visibilitas debitur yang selama ini tertutup data konvensional.
Glant Saputrahadi, Direktur Utama Pefindo, menekankan bahwa data transaksi QRIS, data pembayarannya via digital, serta riwayat transaksi antara UMKM dengan supplier seringkali bersifat tunai dan tidak tercapture dalam skor kredit tradisional. Kunci pembahasan adalah bagaimana mengubah data yang terfragmentasi menjadi landasan pembiayaan yang lebih inklusif tanpa menggerogoti kehati-hatian bank. Dengan demikian, pembukaan data keuangan alternatif bisa menjadi pendorong akselerasi kredit UMKM secara lebih merata.
Menurut Glant, data SLIk OJK tidak cukup untuk menggambarkan kemampuan bayar UMKM secara utuh. Bank perlu melihat pola pembayaran dan kecenderungan keuangan yang lebih luas guna mengurangi risiko gagal bayar. Keterbatasan data konvensional jadi hambatan bagi perbankan untuk menyalurkan pembiayaan secara lebih agresif kepada UMKM yang prospektif.
Penilaian kredit yang hanya mengandalkan data terbuka seperti SLIK serta riwayat tagihan telekomunikasi membuat bank ragu menanggung biaya verifikasi riwayat keuangan calon debitur. Bank cenderung menahan risiko melalui premi risiko yang lebih tinggi jika data alt tidak memadai, sehingga akses modal bagi UMKM bisa terhambat meskipun prospeknya positif. Data alternatif, seperti transaksi Telco dan data kemauan bayar, disebut sebagai jembatan penting untuk membuka lebih banyak pintu pembiayaan.
Lebih lanjut, Glant menekankan bahwa perbankan secara umum menilai keuntungan dari risiko dan profitabilitas. Tanpa kemampuan untuk memverifikasi data alternatif, bank mungkin menilai volume pinjaman dengan hati-hati dan mempertimbangkan biaya operasional yang tinggi. Secara statistik, pertumbuhan kredit bank umum masih relatif rendah jika dibandingkan dengan segmen pinjaman online yang lebih agresif, sehingga ada kebutuhan kebijakan untuk menyeimbangkan insentif agar risiko rendah dapat diterjemahkan menjadi peluang pembiayaan.
Data menunjukkan akselerasi kredit di bank umum hanya Rp8.537 triliun dengan pertumbuhan sekitar 9,06 persen, sementara kredit untuk segmen lain seperti Pindar menembus Rp54,7 triliun dengan pertumbuhan 197,3 persen. Angka-angka ini menunjukkan potensi besar bagi UMKM jika data alternatif benar-benar dioptimalkan. Pembukaan data SLIk OJK memang penting, tetapi perlu dilengkapi dengan sumber-sumber baru agar pembiayaan UMKM bisa tumbuh lebih cepat.
Glant mengungkapkan bahwa demi mengakselerasi SME, setidaknya data kemauan pagar debitur untuk membayar harus menjadi bagian dari penilaian. Data Telco dan data transaksi QRIS yang terukur bisa menjadi indikator perilaku pembayaran yang lebih hidup dibanding skor konvensional. Dengan demikian, jika data alternatif dibuka secara bijaksana, maka risiko tingkat pinjaman bagi UMKM bisa ditekan sambil mendorong akses modal yang lebih luas.
Secara kebijakan, pembiayaan UMKM berpotensi meningkat jika bank-bank diberi kerangka regulasi yang memfasilitasi penggunaan data alternatif dengan perlindungan data. Cetro Trading Insight mengangkat temuan ini sebagai rekomendasi kepada pelaku pasar bahwa inovasi data adalah pendorong utama inklusi keuangan dan stabilitas kredit jangka panjang, asalkan diiringi tata kelola risiko yang kuat.