Di tengah gejolak pasar obligasi korporat Indonesia, laporan Pefindo menghadirkan kabar mengejutkan. ADCP turun peringkat menjadi idB dari idBBB- dengan outlook negatif. Laporan ini disusun oleh Cetro Trading Insight, bagian analitik dari Cetro, untuk menjelaskan dampaknya.
Keputusan ini menindaklanjuti Rapat Umum Pemegang Obligasi (RUPO) yang menyetujui penundaan pembayaran kupon Obligasi II pada Mei 2026, Agustus 2026, November 2026, Februari 2027, dan Mei 2027. Penundaan kupon tersebut dilakukan seiring rencana ADCP untuk melunasi kupon yang ditunda pada saat pokok Obligasi II jatuh tempo Mei 2027. Kondisi ini mencerminkan tekanan likuiditas yang memburuk di tengah sentimen negatif sektor properti.
Kami menilai posisi likuiditas ADCP limpuh dan fleksibilitas pendanaan yang terbatas. Pefindo menegaskan bahwa Obligasi III yang dijamin CGIF tetap memiliki peringkat idAAA(cg) meskipun ada pembatasan struktural akibat ukuran leverage yang agresif.
Obligasi III ADCP tetap dijamin penuh oleh CGIF melalui fasilitas penjaminan, dengan peringkat idAAA(cg) yang mencerminkan kekuatan penjamin. Namun perlindungan tersebut tidak menghapus tantangan likuiditas dan ukuran modal perusahaan. Struktur permodalan ADCP dinilai sangat agresif, menambah risiko terkait kemampuan membayar dalam jangka pendek.
Kinerja operasional perusahaan melemah seiring tekanan pada sektor properti. Penurunan pendapatan berulang dari hotel GranDhika dan aset TOD memengaruhi arus kas. Meskipun aset utama tetap berharga, pendapatan berulang yang terbatas membuat profil likuiditas sangat rentan terhadap perubahan makroekonomi.
Penilaian Pefindo menyiratkan bahwa peringkat bisa turun lebih lanjut jika ADCP gagal mengatasi kewajiban keuangan yang jatuh tempo. Peninjauan dapat dilakukan jika ADCP mampu meningkatkan likuiditas, melakukan langkah restrukturisasi, atau mendapatkan dukungan pendanaan tambahan. Skenario penurunan lebih lanjut tetap kemungkinan jika kondisi operasional masih lemah.
Bagi investor obligasi korporat, penurunan peringkat ADCP meningkatkan risiko kredit pada obligasinya. Penundaan kupon menambah kenyataan bahwa likuiditas perusahaan membatasi kemampuan membayar tepat waktu. Meski Obligasi III tetap dijamin CGIF, risiko pada Obligasi II tetap ada.
Investor disarankan mengevaluasi profil risiko, tidak hanya mengandalkan jaminan semata. Diversifikasi portofolio, fokus pada aset berkualitas, dan kesiapan menghadapi volatilitas menjadi kunci. Monitor perkembangan pembayaran kewajiban ADCP dan peluang refinancing jika likuiditas membaik.
Kontrol atas ADCP ada di tangan Adhi Karya Tbk (ADHI) sebagai pemegang saham mayoritas sekitar 90 persen. Dukungan pemegang saham utama bisa membantu proses penyelesaian kewajiban, namun diperlukan langkah nyata untuk memperbaiki arus kas jangka panjang. Cetro Trading Insight akan terus memantau perkembangan dan menyajikan analisis lanjutan untuk investor.