Menurut laporan Cetro Trading Insight, perpanjangan gencatan senjata antara AS dan Iran menjaga fokus pasar pada ketidakpastian geopolitik. Sentimen investor tetap rendah karena prospek negosiasi yang belum jelas dan tekanan pada arus perdagangan internasional. Dalam konteks ini, perak (XAG/USD) cenderung diwarnai oleh kecemasan akan dampak geopolitik terhadap ekonomi global.
Ketegangan di Timur Tengah membuat pedagang menilai risiko lebih tinggi, sehingga logam mulia sering dipandang sebagai pelindung nilai. Sementara itu, harga minyak menunjukkan pemulihan pasca koreksi, yang menambah faktor pendukung bagi aset yang tidak memberikan imbal hasil. Ketidakpastian ini juga mendorong pelaku pasar untuk menyeimbangkan risiko dan potensi imbal hasil dari berbagai kelas aset.
Indikator sentimen pasar tetap sensitif terhadap berita mengenai blokade pelabuhan Iran dan perkembangan proposal negosiasi di Tehran. Indikator teknikal bagi XAGUSD mungkin menunjukkan pembalikan alih arah jika berita utama berubah, namun faktor fundamental yang melatarbelakangi pergerakannya tetap dominan. Laporan ini menyajikan gambaran ringkas dengan fokus pada dinamika geopolitik yang memengaruhi pergerakan logam mulia, dikutip melalui Cetro Trading Insight.
Harga dolar AS bergerak lebih rendah secara tipis terhadap keranjang mata uang utama, memberikan dukungan bagi logam mulia untuk mempertahankan momentum kenaikan. Penurunan DXY membantu XAG/USD menghadapi tekanan dari kabar geopolitik yang bertemu dengan cabang kebijakan moneter. Para investor menilai bahwa pelemahan dolar membuka peluang bagi komoditas non-yield seperti perak untuk menguat lebih lanjut.
Selain itu, kenaikan harga minyak pasca koreksi menunjukkan adanya risiko pasokan yang berkelanjutan terkait konflik di sekitar Selat Hormuz. Kenaikan biaya energi ini dapat menahan langkah-langkah pemotongan suku bunga oleh bank sentral, sehingga secara tidak langsung mendukung proyeksi inflasi global. Kondisi ini cenderung menahan arus modal ke aset berisiko dan memperkuat daya tarik logam mulia bagi sebagian investor sebagai aset lindung nilai.
Dengan perhatian tetap fokus pada berita geopolitik, investor menilai peluang jangka pendek terhadap logam mulia sebagai bagian dari diversifikasi portofolio. Ketidakpastian politik memastikan bahwa pelaku pasar tetap waspada terhadap setiap komentar kebijakan atau perkembangan irisan baru. Secara keseluruhan, suasana pasar tetap rapuh meskipun ada beberapa sinyal pemulihan dari pasar minyak dan dolar yang agak lemah.
Dalam kajian kebijakan moneter, kandidat Fed seperti Kevin Warsh menekankan perlunya reformasi kerangka kerja serta menjaga neraca yang lebih kecil. Pendapatnya menambah variasi spekulasi mengenai arah kebijakan bank sentral dan bagaimana hal itu dapat mempengaruhi pasar komoditas secara luas. Sinyal kebijakan yang lebih ketat atau lebih longgar akan mempengaruhi aliran modal dan permintaan terhadap logam mulia.
Meskipun ada dorongan reformasi, pasar tetap mencermati bagaimana perubahan kebijakan berdampak pada inflasi dan tingkat suku bunga jangka menengah. Ekspektasi inflasi global yang lebih tinggi akibat lonjakan harga energi dapat mendukung permintaan terhadap aset lindung nilai meskipun imbal hasilnya rendah. Dalam konteks ini, investor menimbang skenario pemulihan ekonomi dengan hati-hati.
Secara teknis, harga perak belakangan berada di sekitar kisaran $77,70 per ounce pada penutupan laporan, didorong oleh dinamika geopolitik, pelemahan dolar, dan persepsi inflasi global. Proyeksi pasar akan bergantung pada perkembangan lokasi krisis serta keputusan kebijakan bank sentral berikutnya. Laporan ini menekankan bahwa pergerakan selanjutnya akan sangat bergantung pada data makro dan tingkat volatilitas berita geopolitik.