
Perak menguat pada perdagangan Jumat, mencoba bertahan di atas level acuan teknikal yang sering dipantau pelaku pasar. Pergerakan harga dipicu oleh jeda pada dolar AS yang memberikan ruang bagi logam mulia tersebut untuk memulihkan diri. Meskipun momentum intraday terlihat positif, volatilitas tetap tinggi karena investor menimbang dinamika pasar energi dan tekanan inflasi global.
Kenaikan harga dipandu pelemahan dolar, meskipun dukungan tetap terbatas oleh imbal hasil obligasi AS yang tinggi. Pelaku pasar juga menilai bahwa kebijakan Federal Reserve bisa tetap ketat, menahan dorongan perak untuk reli besar. Secara umum, lingkungan pasar masih berisiko karena faktor inflasi dan pertumbuhan ekonomi.
Ketegangan geopolitik dan gangguan pasokan energi turut menjadi faktor pendukung bagi aset lindung nilai. Serangan terhadap kapal di kawasan vital minyak serta eskalasi konflik di Timur Tengah meningkatkan permintaan terhadap logam mulia sebagai pelindung nilai. Namun, pergerakan jangka pendeknya masih dibatasi oleh dinamika dolar dan obligasi.
Dinamika minyak mentah tetap menjadi katalis utama bagi perak, karena perubahan harga energi berdampak pada biaya produksi dan persepsi inflasi. Pasar memantau potensi perubahan pasokan global serta kebijakan produksi OPEC+ yang bisa memicu perubahan permintaan terhadap logam mulia. Pelemahan dolar membantu perak mencoba melanjutkan tren kenaikannya.
Data pasar menunjukkan adanya ekspektasi bahwa Federal Reserve bisa melanjutkan sikap hawkish dalam beberapa bulan ke depan. CME FedWatch mencerminkan peluang kenaikan suku bunga yang lebih tinggi, mendukung dolar AS serta membatasi reli logam mulia. Skenario ini membuat investor menilai risiko terhadap offset inflasi dan pertumbuhan global.
Imbal hasil US Treasury tetap di level tinggi, menambah beban pada perak untuk bergerak lebih lanjut ke atas. Analis menilai bahwa arah jangka menengah akan sangat bergantung pada arah inflasi dan respons kebijakan moneter. Ketidakpastian geopolitik juga menambah volatilitas di pasar komoditas.
Ketegangan di Laut Merah dan area sekitar meningkatkan kekhawatiran gangguan pasokan energi global. Serangan terhadap kapal dagang dan meningkatnya aktivitas militer memperburuk dinamika harga minyak, yang pada akhirnya mempengaruhi preferensi investor terhadap aset berisiko maupun logam mulia.
Para pelaku pasar menimbang kemungkinan bahwa kebijakan Fed harus menjaga suku bunga lebih tinggi untuk periode yang lebih lama jika inflasi tetap tinggi. Proyeksi harga minyak yang tetap tinggi juga mendukung narasi biaya hidup yang lebih besar dan memberi tekanan pada sovereign yield. Semua faktor ini membuat perak tetap berada dalam jalur keseimbangan antara permintaan safe-haven dan risiko ekonomi global.
Di tengah ketidakpastian, aliran dana ke aset safe-haven tetap kuat meski dolar menguat, sehingga perak menghadapi kombinasi peluang dan risiko. Para trader cenderung menggabungkan analisis teknikal dengan faktor fundamental untuk menentukan arah trading. Dengan pendekatan risiko-terukur, peluang posisi long di XAGUSD bisa dipertimbangkan jika level pembatasan dipatuhi.
Catatan: Laporan ini disusun oleh Cetro Trading Insight.
| Pair | Open | TP | SL |
|---|---|---|---|
| XAGUSD | 58.55 | 60.75 | 57.60 |