
Kejadian terbaru di Timur Tengah memicu gangguan energi yang meningkatkan inflasi secara global. Dampak ini menekan biaya produksi dan transportasi, sehingga logam mulia seperti perak tertekan di pasar. Investor memantau sinyal dari bank sentral terkait jalur kebijakan di masa mendatang.
Data pasar menunjukkan bahwa indikator FedWatch CME menakar peluang kenaikan suku bunga pada Desember sekitar 48 persen, naik signifikan dari minggu sebelumnya. Ekspektasi tersebut memperkuat tekanan pada mata uang dolar dan menambah volatilitas harga logam. Pesan kebijakan dari para pejabat bank sentral semakin fokus pada penanganan inflasi.
UBS menurunkan proyeksi permintaan investasi terhadap perak menjadi 300 juta ons akibat permintaan industri yang lebih lemah dan peningkatan pasokan tambang. Akibatnya, defisit global perak diperkirakan menyusut secara signifikan. Namun, risiko geopolitik tetap menjadi faktor risiko utama bagi arah harga jangka pendek.
Kebijakan moneter yang lebih ketat berpotensi mendorong biaya pinjaman ke tingkat lebih tinggi dan menekan aktivitas industri yang menggunakan perak sebagai bahan baku. Pengetatan kebijakan juga bisa mengurangi permintaan perak untuk keperluan simpanan nilai di pasar fisik. Sementara itu, arus modal global tetap sensitif terhadap inflasi dan risiko geopolitik.
Nilai tukar dolar AS menguat, memberikan beban tambahan pada harga perak yang diperdagangkan dalam USD. Pelaku pasar cenderung mencari aset likuid di tengah ketidakpastian, sehingga likuiditas di dolar meningkat. Kondisi tersebut memperbesar volatilitas harga komoditas logam industri.
Dalam konteks pasokan, UBS memangkas proyeksi permintaan investasi terhadap perak menjadi 300 juta ons karena permintaan industri melemah dan peningkatan pasokan tambang. Defisit global perak diperkirakan menurun secara signifikan, meski beberapa faktor fundamental tetap mendukung pergerakan harga jangka panjang. Penyesuaian ini menambah tekanan turun pada harga di jangka pendek sambil menjaga risiko rebound tetap ada.
Ketegangan di Timur Tengah memicu lonjakan harga minyak dan meningkatkan tekanan inflasi global. Pasokan energi yang lebih mahal membuat biaya hidup membengkak dan mempengaruhi keputusan investasi pada komoditas berdenominasi USD. Di saat yang sama, sentimen pasar tetap rapuh karena dinamika geopolitik yang berkelanjutan.
Kuatnya dolar AS mencerminkan peningkatan permintaan aset safe-haven, sementara risiko geopolitik menambah volatilitas di pasar logam. Investor menimbang apakah pergerakan harga akan mengikuti dinamika kebijakan moneter atau arus likuiditas global. Kompetisi geopolitik menjadi faktor utama yang mempengaruhi arah jangka pendek.
Dalam pandangan ke depan, harga perak kemungkinan tetap sensitif terhadap data inflasi, rilis ekonomi, dan komentar pejabat bank sentral. Secara teknikal, level support berada di sekitar 70 dan bisa menjadi patokan untuk narasi harga ke depan. Sinyal pasar tetap sensitif terhadap data inflasi, sehingga peluang penurunan maupun pemulihan tetap ada tergantung kejutan data.