
Perak turun ke sekitar 63.00 dolar AS, level terendah sejak 23 Maret, setelah turun 0.58 persen sepanjang hari. Pergerakan ini menunjukkan bagaimana pasar menimbang risiko dan dampak dari ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve. Laporan ini disusun oleh Cetro Trading Insight untuk memberikan gambaran analitis. Ketika imbal hasil obligasi AS mulai menguat, daya tarik logam mulia yang tidak membayar bunga berkurang.
Data inflasi yang tetap tinggi dan konteks geopolitik yang memburuk mendorong evaluasi pasar terhadap jalur kebijakan moneter. Sinyal bahwa Fed akan lebih agresif membuat investor memindahkan fokus ke aset yang lebih likuid dan berimbal. Di saat yang sama, imbal hasil US Treasuries yang lebih tinggi mendorong penguatan dolar, sehingga logam mulia berimbalan rendah kehilangan daya tariknya.
Tensi antara AS dan Iran serta tekanan pada pasar energi turut memperkuat dolar sebagai aset aman. Harga minyak tetap tinggi sejak dimulainya konflik menambah tekanan inflasi global dan memperkecil peluang rebound bagi perak. Semua faktor ini mempertegas tekanan jual terhadap perak dalam jangka pendek.
Dolar AS menguat akibat dinamika geopolitik dan ekspektasi bahwa kebijakan moneter AS akan menjadi lebih agresif. Menurut alat CME FedWatch, peluang setidaknya satu kenaikan suku bunga sebelum akhir tahun meningkat, menambah beban pada logam mulia yang tidak memberikan imbal hasil. Pergerakan ini menambah bias bearish bagi XAG/USD.
Imbal hasil Treasury AS bergerak lebih tinggi, menjaga dolar di posisi terdepan dan mengurangi daya tarik XAG/USD. Arus modal defensif cenderung mengalir ke dolar ketika imbal hasil naik dan prospek kebijakan moneter memudar. Kondisi ini memperkuat tekanan jual pada perak.
Analisis dari ING menegaskan bahwa perak tetap berhubungan erat dengan arah imbal hasil US Treasury dan ekspektasi kebijakan Federal Reserve. Selama dolar tetap kuat dan imbal hasil cenderung naik, XAG/USD menghadapi tekanan jual yang signifikan. Investor juga menantikan data ekonomi AS berikutnya serta perkembangan di konflik Timur Tengah untuk dinamika lebih lanjut.
Kebijakan Fed yang kemungkinan lebih agresif telah tersirat melalui data inflasi terbaru, terutama PPI Mei yang naik sekitar 6,5 persen secara YoY. Kondisi ini mendorong pasar untuk memperhitungkan jalur pengetatan yang lebih cepat dan menambah tekanan pada logam mulia tanpa imbal hasil. Pelaku pasar disarankan menjaga sikap waspada terhadap kejutan data berikutnya.
Sisi teknikal menunjukkan retracement yang terbatas dan fokus pada level sekitar 63.00 dolar sebagai titik referensi awal. Investor disarankan mengamati ketat pergerakan harga dan potensi rebound jika ada perubahan sentimen. Perhatikan adanya peluang jika sentimen membaik, tetapi tetap berhati-hati terhadap risiko volatilitas tinggi.
Rencana trading dengan rasio risiko-imbal hasil minimal 1:1.5 memerlukan kerangka level yang jelas. Karena sinyal utama adalah jual, target penurunan bisa menuju sekitar 60.75 dolar dengan stop di 64.50 dolar. Dengan manajemen risiko yang tepat, peluang teknikal ini bisa menawarkan potensi keuntungan sesuai ekspektasi pasar.