Perak Tertekan: Inflasi, Ketegangan Geopolitik, dan Prospek Kebijakan Bank Sentral

Perak Tertekan: Inflasi, Ketegangan Geopolitik, dan Prospek Kebijakan Bank Sentral

trading sekarang

XAGUSD melemah untuk sesi kelima berturut-turut, diperdagangkan sekitar $65.60 per troy ounce pada jam Asia hari Senin. Pergerakan tersebut mencerminkan kekhawatiran atas tekanan inflasi yang berkelanjutan dan ekspektasi bahwa bank-bank sentral utama akan mempertahankan pola kebijakan hawkish. Laporan ini disusun oleh Cetro Trading Insight untuk membantu pembaca memahami dinamika pasar.

Seiring minyak mentah meroket karena konflik di Timur Tengah, inflasi semakin dipicu dan kekhawatiran terhadap pertumbuhan terjaga. Kondisi tersebut menjaga logam mulia tetap rentan, meskipun para investor mencari perlindungan di tengah volatilitas pasar. Ketidakpastian kebijakan moneter global menambah tekanan pada XAGUSD.

Para pelaku pasar menimbang potensi kenaikan suku bunga Federal Reserve menjelang akhir tahun, meskipun bank sentral lain seperti ECB, BOE, dan BOJ belum mengubah arah kebijakan. Mereka tetap menunjukkan kesiapan untuk mengental kebijakan jika tekanan inflasi berlanjut. Dampak kombinasi ini berpotensi menjaga arah perak tetap lemah dalam jangka pendek.

Presiden AS Donald Trump memberi Iran tenggat 48 jam untuk membuka kembali Hormuz atau menghadapi serangan pada infrastruktur energi. Ancaman tersebut memperlihatkan intensitas konflik di wilayah strategis yang dapat mengubah aliran minyak global.

IRGC memperingatkan bahwa jika tindakan AS berlanjut, mereka akan menutup Selat Hormuz sepenuhnya. Tehran juga menyatakan kemampuan untuk menarget aset AS dan Israel di wilayah, termasuk sektor energi, teknologi informasi, dan fasilitas desalinasi.

Reuters melaporkan Saudi Aramco mengurangi pengiriman minyak ke pembeli Asia untuk bulan kedua berturut-turut pada April, karena gangguan terhadap aliran lewat Hormuz. Pembatasan pasokan menyempitkan pasokan Arab Light dari Yanbu dan membatasi ketersediaan feedstock bagi refiners Asia. Kondisi ini menambah tekanan inflasi dan berpotensi meningkatkan volatilitas harga komoditas secara global.

Ketegangan geopolitik dan dinamika pasar energi menambah kompleksitas bagi prospek logam mulia, karena investor menyeimbangkan risiko kebijakan dan perubahan imbal hasil obligasi. Banyak faktor eksternal yang mempengaruhi nilai XAGUSD, termasuk jalur perdagangan minyak dan sikap bank sentral. Dalam konteks ini, sinyal pasar cenderung meningkatnya volatilitas jangka pendek.

Di sisi kebijakan, para trader menimbang kemungkinan adanya kenaikan suku bunga Federal Reserve menjelang akhir tahun sebagai respons terhadap inflasi yang belum mereda. Kondisi ini bisa memperkuat dolar dan menekan harga logam seperti perak. Namun, tekanan inflasi global juga bisa menjaga permintaan safe-haven di beberapa situasi.

Bank sentral utama lain seperti ECB, BOE, dan BOJ pada rapat terakhir mempertahankan suku bunga tetapi menegaskan kesiapan untuk menambah pengetatan jika inflasi tetap tinggi. Respons kebijakan yang seragam ini menambah dinamika pada pasar komoditas, termasuk XAGUSD, dan menambah risiko bagi trader baik long maupun short.

banner footer