
Harga perak XAGUSD tergelincir meski gain dua hari sebelumnya, berada di sekitar $58.80 per troy ounce pada sesi Asia Senin. Ketegangan baru antara AS dan Iran di Selat Hormuz meningkatkan kekhawatiran terkait harga minyak dan dampaknya terhadap inflasi. Para pelaku pasar tetap sensitif terhadap perkembangan berita di Timur Tengah karena stabilitas wilayah berpotensi memengaruhi sentimen risiko secara global.
Kedua negara kemudian sepakat untuk menahan serangan menjelang pembicaraan damai di Doha, sehingga penurunan harga logam mulia dibatasi. Meski ada jeda militer, perak tetap menghadapi tekanan karena ekspektasi Fed yang lebih hawkish tetap terpantau di pasar. Pelaku pasar menantikan petunjuk dari data tenaga kerja besar pekan ini untuk memahami jalur kebijakan moneter kedepan.
Investors menimbang dinamika laju pekerjaan Amerika, dengan fokus pada laporan Nonfarm Payrolls yang akan rilis pekan ini. Diproyeksikan ada rebound pekerjaan sekitar ratusan ribu posisi, sementara tingkat pengangguran diperkirakan bertahan di level rendah. Hasil data tersebut akan menentukan seberapa kuat permintaan terhadap logam mulia dan arah kebijakan moneternya.
Faktor utama yang membentuk arah harga adalah pergerakan minyak yang menguat akibat ketegangan di Hormuz. Pasar juga menilai risiko inflasi yang lebih tinggi jika pasokan energi tidak stabil. Ketidakpastian geopolitik yang berkepanjangan meningkatkan permintaan terhadap aset lindung nilai meskipun logam mulia cenderung sensitif terhadap pergerakan dolar.
Ekspektasi kebijakan moneter hawkish dari Federal Reserve membuat jalur kenaikan suku bunga lebih sulit diprediksi. Berdasarkan CME FedWatch, probabilitas kenaikan suku bunga telah mencapai sekitar 59,7 persen pada September 2026. Faktor-faktor ini memperbesar tekanan terhadap logam mulia non-yielding meski ada gangguan pasokan global tertentu.
Data tenaga kerja Amerika pekan ini akan menjadi barometer utama bagi jalur suku bunga, karena komentar pasar cenderung dipengaruhi angka-angka tersebut. Analisis terhadap tren pertumbuhan pekerjaan dan tingkat pengangguran akan membentuk pemahaman tentang kemampuan ekonomi untuk menahan tekanan inflasi. Kondisi ini pada akhirnya akan mempengaruhi arah pergerakan XAGUSD kedepannya.
Perak bergerak tanpa yield menghadapi hambatan akibat ekspektasi Fed yang lebih tinggi, meskipun ada jeda diplomatik di Doha. Pergerakan harga sekitar $58.80 per troy ounce menunjukkan bahwa sentimen risiko tetap rapuh saat pasar menimbang risiko geopolitik dan stabilitas regional. Selain itu, dinamika harga minyak menjadi komponen kunci yang ikut membentuk prospek perak dan inflasi global.
Dari sudut teknikal, peluang perdagangan masih tergantung pada bagaimana harga berisiko menembus level kunci yang belum disebutkan dalam laporan. Karena sinyal saat ini netral, pedagang disarankan untuk fokus pada manajemen risiko daripada mengunci posisi berskala besar. Rencana risk-reward yang proporsional diperlukan jika ada peluang breakout di masa depan.
Konsistensi antara dinamika ekonomi global dan kebijakan Bank Sentral akan menjadi penentu arah selvanjutnya. Kami di Cetro Trading Insight akan terus memantau pergerakan harga XAGUSD dan membagikan analisis terbaru untuk membantu pembaca memahami implikasi pasar secara lebih jelas.