Pertumbuhan AS Diperkirakan Mendingin pada 2026 dan Fed Diprediksi Lakukan Dua Pemotongan Suku Bunga

trading sekarang

Laporan terbaru menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi AS diperkirakan melambat lebih lanjut pada 2026, meski proyeksi PDB sedikit lebih tinggi. Faktor-faktor struktural seperti tenaga kerja yang tumbuh lambat dan perlambatan upah tetap menjadi hambatan utama bagi peningkatan belanja rumah tangga. Akibatnya, rumah tangga mungkin menahan pengeluaran meskipun ada peluang investasi tetap yang sedikit meningkat. Analisis ini disusun oleh tim Cetro Trading Insight untuk pembaca kami.

Meskipun total GDP untuk 2026 diperkirakan naik, potensi pertumbuhan di masa depan tetap terbatas oleh kapasitas produksi dan dinamika pasar tenaga kerja. Konsumsi rumah tangga diperkirakan menyusut perlahan, sementara investasi tetap mencoba mengimbangi penurunan itu. Efek gabungan dua komponen ini menentukan arah utama ekonomi secara keseluruhan.

Inflasi diperkirakan tetap berada pada jalur yang relatif terkendali meski ada distorsi data di kuartal keempat. Tekanan biaya perumahan dan biaya tenaga kerja per unit dipandang akan menahan laju inflasi secara umum, meskipun transfer biaya tarif masih berperan pada harga barang dan makanan di 2026. Secara keseluruhan, dinamika harga di beberapa sektor akan membentuk kebijakan moneter ke depan.

Danske Research menaikkan proyeksi pertumbuhan PDB AS untuk 2026 menjadi sekitar 2,0 persen, meski proyeksi 2027 tetap di sekitar 1,7 persen. Penal utama tetap datang dari pertumbuhan tenaga kerja yang stagnan serta perlambatan kenaikan upah, yang membatasi peningkatan konsumsi rumah tangga. Investasi tetap menjadi komponen penting untuk menjaga momentum pertumbuhan tanpa mendorong inflasi.

Kalangan analis memperkirakan Federal Reserve akan melakukan dua kali penurunan suku bunga sebesar 25 basis poin pada 2026, dengan kebijakan suku bunga pada kisaran 3,00-3,25 persen melalui sisa 2026 dan 2027. Setelah itu, kebijakan akan dijaga pada tingkat terminal yang konsisten untuk menjaga stabilitas finansial. Hambatan eksternal dan dinamika inflasi akan menjadi faktor utama yang memandu jalur kebijakan.

Risiko terhadap prospek seimbang secara umum. Perlambatan konsumsi rumah tangga bisa mendorong jeda pada pemotongan lebih lanjut, namun stimulus fiskal serta gelombang permintaan manufaktur global bisa membuat bank sentral bertahan pada jalur moderat. Perubahan ekternal seperti perdagangan internasional dan kebijakan fiskal di masa depan juga patut dipantau.

Implikasi inflasi dan pasar keuangan

Riset memperkirakan inflasi headline saat ini berada pada kisaran sekitar 2,4 persen untuk 2026 dan 2027, dengan inflasi inti pada 2,5 persen di 2026 dan 2,6 persen di 2027. Laju inflasi secara umum diperkirakan mengikuti jalur yang relatif stabil meski terdapat beberapa distorsi di data kuartal terakhir. Perkiraan ini menjaga harapan pasar terhadap pelonggaran kebijakan secara bertahap.

Tarif impor diperkirakan terus memberikan tekanan pada harga barang dan pangan meski dampaknya mungkin menurun seiring waktu. Faktor eksternal seperti biaya rumah tangga dan dinamika manufaktur global turut membentuk jalur inflasi secara keseluruhan. Kebijakan fiskal dan biaya tenaga kerja akan terus menjadi kunci bagi arah harga di masa mendatang.

Penelitian ini menyoroti jalur kebijakan Fed dengan dua pemotongan 25 bps pada 2026, diikuti oleh retensi pada level kebijakan melalui 2027. Strategi semacam itu kemungkinan meningkatkan stabilitas pasar obligasi dan kelas aset lainnya, meski volatilitas tetap ada. Investor disarankan memantau transmisi kebijakan moneter terhadap pertumbuhan ekonomi dan inflasi secara berkala.

broker terbaik indonesia