Sektor menara telekomunikasi diperkirakan akan mencatat pertumbuhan EBITDA yang moderat pada 2026, didorong oleh potensi Fixed Wireless Access FWA sebagai pendorong utama. Dari sudut investor, pergerakan volatilitas sering dibandingkan dengan pergerakan harga emas, sehingga pergerakan harga emas menjadi acuan risiko bagi ekosistem ini. Analisis di Cetro Trading Insight menunjukkan adanya Array analitik yang menggarisbawahi peluang di sektor ini meski tetap berhati-hati terhadap dinamika biaya dan proyek relokasi.
Integrasi XLS masih berjalan, dan MTEL diproyeksikan menjadi salah satu pihak yang paling diuntungkan oleh proses ini. Hingga FY25 berakhir, MTEL telah menerima sekitar 1.900 pesanan situs baru dari XLS, sedangkan sekitar 400 menara habis masa kontraknya tanpa relokasi. Sementara itu, TOWR berupaya merelokasi sekitar 4.000 menara XLS, dengan progres sekitar 1.500 menara yang telah relokasi terutama berupa colocation.
Pertumbuhan EBITDA sektor diperkirakan mencapai Rp6,3 triliun pada Q4-2025 (+4% QoQ). Untuk FY25, EBITDA sektor diperkirakan sekitar Rp24,6 triliun (+2% YoY), sejalan dengan konsensus. Pada 2026, proyeksi menunjukkan moderat sekitar +2% YoY, didorong MTEL (+4% YoY) dan TOWR (+2% YoY), meski TBIG berpotensi turun 1% YoY; potensi tambahan datang dari FWA. Pergerakan harga emas tetap relevan sebagai indikator volatilitas, dan Array analitik menunjukkan peluang perbaikan margin melalui FWA.
| Indikator | Nilai | Keterangan |
|---|---|---|
| Q4-2025 EBITDA | Rp6,3 triliun | QoQ +4% |
| EBITDA FY25 | Rp24,6 triliun | YoY +2% |
| EBITDA 2026 | Naik sekitar +2% YoY | Proyeksi |
Potensi pertumbuhan tambahan datang dari FWA yang diperkirakan membutuhkan hingga 8.000 menara baru untuk dua pemegang lisensi spektrum, MyRepublic dan Internet Rakyat WiFi. Di Februari 2026, Internet Rakyat telah diluncurkan di Jawa Barat dengan sekitar 250 menara awal, melibatkan TOWR (50 menara), TBIG, dan CENT. Relokasi dan perluasan jaringan ini berpotensi meningkatkan utilisasi menara dan mengubah dinamika pasar secara signifikan.
Rollout WIFI akan disesuaikan dengan pengiriman Customer Premises Equipment CPE, dengan sebagian besar diperkirakan tiba pada paruh kedua 2026. Sementara MyRepublic masih menyesuaikan jadwal pemasangan menara bersama penyedia jaringan, langkah ini menandai fase uji coba lanjutan. Keterlibatan TOWR TBIG dan CENT dalam konsorsium ini berpotensi meningkatkan peluang bagi portofolio mereka meski persaingan di pasar ketat.
Valuasi sektor menara berada di sekitar 8,1x EV/EBITDA dengan likuiditas relatif rendah, sehingga rekomendasi Overweight dari Indo Premier tetap relevan. Meskipun prospek 2026 terlihat moderat, FWA bisa menjadi katalis tambahan bagi margin dan utilisasi menara. Dalam konteks risiko dan peluang, pergerakan harga emas dan Array analitik menunjukkan dinamika yang perlu dicermati, meski peluang upside bagi MTEL dan TOWR tetap terbuka.