Memasuki pekan kebijakan yang penuh sorotan, Ketua Federal Reserve Jerome Powell berdiri di persimpangan penting yang bisa menentukan arah moneter AS untuk beberapa periode ke depan. Di bawah kepemimpinannya, Fed telah melewati ujian berat, mulai dari gelombang pandemi hingga dinamika inflasi yang bergejolak, sehingga fokus pasar tertuju pada bagaimana ia menutup bab ini dengan dampak nyata pada kebijakan ke depan.
Powell akan memimpin pertemuan FOMC yang dijadwalkan berlangsung Selasa dan Rabu, dengan masa jabatannya sebagai ketua berakhir pada 15 Mei. Sinyal tentang pengganti, Kevin Warsh, masih bergantung pada persetujuan Senat, sementara Powell kemungkinan tetap menjabat sementara jika proses konfirmasi Warsh tertunda. Ketidakpastian ini menambah lapisan risiko bagi ekspektasi pasar di sepanjang tahun ini.
Powell, 73 tahun, adalah satu-satunya ketua The Fed dalam hampir empat dekade yang tidak memiliki gelar ekonomi. Ia membawa latar belakang politik dan hukum, bukan kredensial ekonomi formal, yang memberi nuansa unik dalam cara ia menilai kebijakan dan komunikasi dengan pasar serta pemerintahan. Masa jabatan yang berakhir ini menambah tekanan publik untuk keputusan yang tidak hanya teknis tetapi juga politis.
Sejak memimpin pada Februari 2018, Fed menghadapi banyak tantangan, termasuk respons besar terhadap pandemi dengan penurunan suku bunga mendekati nol pada Maret 2020 serta program pembelian aset berkelanjutan untuk menyuntikkan likuiditas ke pasar. Langkah agresif ini membantu menahan guncangan ekonomi, namun juga memicu respons inflasi yang melonjak hingga puncaknya pada pertengahan 2022.
Inflasi yang mencapai sekitar 9 persen pada puncaknya memicu serangkaian kenaikan suku bunga yang tinggi, dengan target kebijakan berada di kisaran 5,25-5,5 persen — level tertinggi dalam dua puluh dua tahun terakhir. Pada Maret 2026, rentang suku bunga acuan berada sekitar 3,5-3,74 persen, sementara inflasi berada di sekitar 3,3 persen dan tingkat pengangguran sekitar 4,3 persen, sambil menghadapi tekanan biaya energi akibat dinamika geopolitik dan perang regional yang membentuk ulang lanskap energi.
Jalur kebijakan Fed menjadi poros utama bagi pasar global dan aset berisiko. Ketidakpastian mengenai masa jabatan Powell dan kemungkinan konfirmasi Warsh berisiko menambah volatilitas jangka pendek, meskipun fokus utama moneternya tetap pada menormalisasi inflasi ke target dan menjaga stabilitas ekonomi. Analisis dan konteks lebih lanjut dapat ditemukan di Cetro Trading Insight, platform kami yang menyajikan pemantauan makroekonomi untuk membantu pembaca memahami arah pasar.