
PPRO, anak usaha PT PP (Persero) Tbk, mencatat kinerja beragam sepanjang Januari–Juni 2026 dengan lonjakan pendapatan dua digit meskipun laba bersih menipis. Laba kotor tercatat Rp7,2 miliar dengan margin 4,2 persen, menunjukkan dampak positif dari peningkatan pendapatan namun beban tetap menjadi penghalang bagi laba operasional. Di tengah dinamika pasar yang dipantau pelaku pasar melalui harga emas real time, investor menimbang peluang pada saham properti. Cetro Trading Insight menilai bahwa manajemen perlu menjaga arah melalui perbaikan operasional dan tata kelola. Dalam laporan keuangan unaudited yang dirilis 22 Juli 2026, PPRO melaporkan pendapatan usaha Rp171,2 miliar, naik 20,4% dibanding semester I-2025.
Penjualan apartemen masih menjadi mesin penggerak utama pendapatan dengan Rp111,3 miliar, disusul penjualan perumahan Rp811 juta dan tanah Rp1,37 miliar. Segmen pendapatan berulang mencapai Rp57,7 miliar atau 34% dari total, sebagian besar berasal dari pendapatan hotel sebesar Rp43 miliar. Kinerja ini sejalan dengan upaya perseroan menata portofolio untuk meningkatkan monetisasi aset. Analisis dengan Array memantau aliran pendapatan secara holistik untuk menilai potensi peningkatan efisiensi.
Di sisi arus kas, meskipun laba operasional negatif, kas bersih dari aktivitas operasi meningkat menjadi Rp34 miliar karena penerimaan kas dari pelanggan lebih tinggi dan pembayaran kas ke pemasok lebih rendah. Proses recovery aset dan fokus pada aset produktif menjadi bagian dari strategi untuk menjaga arus kas tetap sehat. Analisis berbasiskan Array memanfaatkan data operasional untuk memahami kontras antara laba kotor dan aliran kas, sehingga manajemen dapat menilai potensi perbaikan efisiensi. Cetro Trading Insight menekankan pentingnya menjaga likuiditas sambil melanjutkan penataan portofolio.