
Di jagat pasar modal Indonesia, pergeseran standar pelaporan keberlanjutan menandai babak baru bagi investor. Mulai 1 Januari 2027, fokus penilaian tidak lagi hanya pada program keberlanjutan, tetapi juga pada dampak finansial isu ESG terhadap kinerja perusahaan. Cetro Trading Insight menilai perubahan ini sebagai loncatan besar menuju transparansi yang lebih konkret dan relevan.
PWC Indonesia melalui Sustainability Leader Yuliana Sudjonno menegaskan bahwa adopsi IFRS S1 dan IFRS S2 ke dalam PSAK 1 dan PSAK 2 akan menjadi dasar penyusunan laporan keberlanjutan di Indonesia. Ia menjelaskan bahwa investor ingin mendengar bagaimana isu ESG memengaruhi disrupsi operasional, pendapatan, dan manajemen risiko keuangan perusahaan. Transisi ini menyiapkan kerangka kerja yang menghubungkan laporan keberlanjutan dengan dampak finansial secara eksplisit.
Nestlé disebut sebagai contoh bagaimana perusahaan mulai mengintegrasikan isu keberlanjutan ke dalam strategi bisnisnya. Perusahaan mengembangkan varietas kopi robusta yang lebih tahan terhadap iklim ekstrem untuk menjaga produktivitas. Contoh ini menegaskan bahwa langkah ESG sudah menjadi bagian penting dari rencana jangka panjang.
Keterkaitan antara pelaporan ESG dan kinerja keuangan menjadi fokus utama PSAK 1 dan PSAK 2. PSAK yang baru menuntut perusahaan menjabarkan bagaimana risiko lingkungan dan sosial memengaruhi arus kas, profitabilitas, dan kebutuhan modal kerja. Dengan demikian investor akan mendapatkan gambaran yang lebih jelas mengenai profil risiko perusahaan.
Menurut Yuliana, translasi sustainability report ke dampak keuangan menjadi tantangan teknis sekaligus peluang. Perusahaan perlu mengukur dampak risiko iklim terhadap revenue, biaya operasional, dan nilai aset. OJK juga sedang menata POJK 51 melalui public hearing sebagai bagian dari penyesuaian regulasi yang mendukung perubahan ini.
Dengan kerangka PSAK 1 dan PSAK 2, investor diharapkan mendapatkan gambaran yang lebih utuh tentang risiko dan peluang terkait perubahan iklim. Penerapan standar baru ini diharapkan meningkatkan kualitas pelaporan keberlanjutan dan membuat informasi menjadi lebih relevan bagi penilaian ketahanan dan prospek jangka panjang emiten. Cetro Trading Insight melihat potensi transformasi ini mendorong perusahaan untuk lebih terbuka tentang dampak ESG terhadap finansial.
Namun implementasi tidak tanpa tantangan. Banyak perusahaan masih kesulitan menerjemahkan sustainability risk menjadi dampak keuangan yang terukur dan dapat diverifikasi. Ini menjadi pekerjaan rumah bagi perusahaan untuk mengubah data non finansial menjadi ukuran finansial yang comparable.
ESG maturity diperlukan: bukan sekadar memenuhi kewajiban regulasi, melainkan menjadikan ESG sebagai keunggulan kompetitif. Ketika tingkat kematangan meningkat, dewan direksi akan mulai menanyakan bagaimana ESG bisa meningkatkan nilai perusahaan dan memenangkan persaingan. Lalu, perusahaan perlu mengintegrasikan ESG ke strategi bisnis untuk menghasilkan value jangka panjang.
Kesiapan pelaku pasar dan investor akan menjadi kunci. Dengan peningkatan kualitas laporan, investor dapat menilai ketahanan dan prospek jangka panjang lebih tepat. Meski demikian, tantangan transformasi tidak bisa dihindari sepenuhnya, dan kolaborasi antara regulator, pelaku usaha, dan profesi akuntansi diperlukan untuk mengamankan manfaat bagi pasar modal Indonesia.