Riset Rabobank menekankan bahwa ekspektasi kebijakan Bank of Japan tidak banyak berubah dibandingkan kebijakan bank sentral G10 lainnya, karena pasar telah membentuk jalur pengetatan yang berjalan secara bertahap. Analisis ini menunjuk pada ketidakpastian yang diminimalkan oleh pasar seiring perubahan persepsi terhadap independensi BoJ dan faktor inflasi yang bisa mendorong langkah kebijakan di masa depan.
Paragraf kedua menyoroti tantangan politik terkait independensi BoJ serta indikator inflasi baru yang mendukung kemungkinan kenaikan lebih lanjut. Risiko intervensi di pasar valuta asing tetap ada, sehingga para pelaku pasar cenderung menjaga kehati-hatian dalam menilai arah USDJPY dan mata uang utama lainnya.
Rabobank memperkirakan USDJPY berada mendekati 152.00 dalam enam bulan, sambil mencatat potensi sisi downfward pada periode 3–6 bulan jika dinamika kebijakan serta aliran perdagangan berjalan sesuai ekspektasi. Skema ini juga menggarisbawahi pentingnya pemantauan terhadap risiko interventional yang bisa memicu perubahan arah secara tiba-tiba.
Meski kebijakan BoJ yang cenderung hawkish bisa memberi dukungan bagi penguatan JPY, re-pricing risiko pengetatan di negara G10 lain telah memperketat tekanan terhadap mata uang utama secara umum. Perubahan volatilitas kebijakan global membuat investor menimbang peluang terhadap berbagai pasangan, sehingga JPY tidak selalu menjadi pemimpin pergerakan di semua kondisi.
Ketakutan akan intervensi FX tetap membatasi potensi lonjakan pasangan ini, sehingga pasar tetap waspada terhadap poros pergerakan yang berada di luar jalur normal. Secara bulanan, JPY telah menunjukkan beberapa penyesuaian terhadap saingan utamanya, sebagian dipicu kekhawatiran bahwa otoritas akan campur tangan jika volatilitas meningkat.
Batas teknis sekitar level 160.00 menjadi rintangan penting bagi pergerakan USDJPY ke atas. Investor memantau sinyal kebijakan BoJ serta dinamika arus dana safe haven yang dapat mempengaruhi arah pasangan ini dalam periode mendatang.
BoJ telah merilis variabel ekonomi tambahan untuk memperjelas arah hawkish-nya, dengan harapan dapat meredakan kekhawatiran mengenai independensi institusi tersebut. Langkah ini dipandang mampu memperkokoh pandangan pasar bahwa kebijakan akan tetap bertahan pada jalur yang lebih ketat di masa depan.
Secara garis besar, pasar menilai bahwa imbal hasil kebijakan akan relatif tidak berubah dalam enam bulan ke depan, meskipun ada kemungkinan pengetatan lebih agresif di luar periode tersebut. Hal ini menuntun diskusi tentang interaksi antara faktor teknikal dan fundamental seiring waktu berjalan.
Dalam jangka pendek, permintaan USD sebagai aset pelindung risiko diperkirakan menjaga USDJPY pada kisaran saat ini. Jika arus minyak melalui Selat Hormuz mulai kembali dan permintaan safe haven menurun, ada potensi USDJPY turun menuju sekitar 152 dalam 3–6 bulan ke depan.
Artikel ini disusun oleh Cetro Trading Insight.