Rabobank: Perang AS-Israel terhadap Iran Dorong Inflasi Global; China Diprediksi Tumbuh 4.5% pada 2026

trading sekarang

Laporan ini disusun oleh Cetro Trading Insight.

Laporan ini menyoroti bagaimana konflik AS-Israel menambah ketidakpastian pasokan minyak dan gas. Sejak awal konflik, harga komoditas energi sangat volatil, memicu kekhawatiran inflasi di berbagai negara. Rabobank menilai China berada dalam posisi lebih siap berkat cadangan besar dan keragaman pasokan.

Kebijakan global didorong oleh tekanan harga energi, memperlihatkan risiko cost-push inflation secara global. Pergerakan harga minyak memicu lonjakan biaya produksi di berbagai sektor, terutama transportasi dan manufaktur. Meski demikian, tekanan inflasi di China diperkirakan tidak cukup untuk memicu tindakan tegas dari bank sentral.

Meskipun begitu, dampak energi tetap memengaruhi ekspor global dan aktivitas domestik di China. Rabobank menyoroti bahwa permintaan luar negeri bisa melambat karena inflasi global yang lebih tinggi, sedangkan konsumsi rumah tangga domestik juga berisiko melambat. Kedua faktor tersebut berpotensi menekan laju pertumbuhan China pada 2026.

Inflasi di China diperkirakan tetap terkendali meskipun gejolak geopolitik berlanjut. China telah dipersiapkan untuk gangguan pasokan minyak dan bisa menggantikan sebagian impor minyak dari Timur Tengah melalui cadangan besar dan keragaman pemasok. Karena itu, kebijakan moneter diproyeksikan tidak akan segera ditarik ke arah pelonggaran atau pengetatan karena tekanan inflasi relatif rendah.

Rabobank memang menurunkan proyeksi GDP China untuk 2026 menjadi 4,5 persen. Mereka juga memperkirakan bahwa inflasi akan lebih tinggi dan pengangguran meningkat menjadi 5,4 persen pada 2026. Kondisi ini menambah beban pada konsumsi domestik dan aktivitas ekspor China secara bertahap.

Imbasnya, ekspor China bisa menurun karena permintaan global yang tertekan biaya, sedangkan konsumsi rumah tangga domestik berisiko melambat akibat tekanan harga yang lebih tinggi. Penyesuaian ini menambah tantangan bagi target pertumbuhan nasional. Namun, China tetap berada pada posisi untuk mengakselerasi pemulihan melalui kebijakan fiskal dan langkah diversifikasi.

Implikasi bagi ekonomi global dan prospek 2026

Dinamika ini memiliki konsekuensi luas bagi pasar Asia dan ekonomi global. Ketidakpastian geopolitik mendorong volatilitas harga komoditas serta aliran modal, yang pada gilirannya mempengaruhi prospek pendanaan lintas batas. Investor perlu memperhatikan perubahan permintaan impor China sebagai barometer pertumbuhan global.

Analisis Rabobank menilai risiko global tetap tinggi meski China memiliki kemampuan mitigasi yang signifikan. Negara tersebut memiliki cadangan minyak dan jaringan pasokan yang terdiversifikasi, serta kapasitas produksi domestik yang mendukung ketahanan. Namun, keterkaitan ekonomi dunia membuat China tetap rentan terhadap guncangan eksternal.

Investor perlu memantau sinyal harga energi dan volatilitas pasar komoditas untuk menilai arah inflasi global. Perubahan permintaan China terhadap mitra dagang utama akan menggerakkan arus modal dan kurs. Memahami dinamika ini penting untuk posisi saat ini dan potensi peluang pada 2026.

banner footer