
RUPSLB RAJA pada 23 Juni 2026 menjadi momentum penting bagi pasar modal Indonesia. Rencana pemecahan nilai nominal saham 1:5 diposisikan untuk meningkatkan akses investor dan menjaga momentum pertumbuhan emiten. Analisis ini disusun oleh Cetro Trading Insight menilai langkah ini sebagai sinyal positif terhadap likuiditas, meski dampak jangka panjang tetap bergantung pada dinamika pasar.
Saham RAJA saat ini diperdagangkan dengan nominal Rp25 per lembar, dan total saham beredar mencapai 4,227,082,500 lembar. Dengan stock split 1:5, nominal akan turun menjadi Rp5 per lembar dan jumlah saham beredar akan naik sekitar lima kali lipat. Perubahan ini diharapkan membuat ukuran lot menjadi lebih terjangkau bagi investor ritel dan meningkatkan partisipasi publik.
Manajemen RAJA menyatakan niat untuk meningkatkan likuiditas perdagangan saham serta memperluas basis investor. Prospektus yang dirilis menyebut bahwa aksi ini tidak mengubah nilai wajar perusahaan secara fundamental, melainkan struktur kepemilikan yang lebih cair. Secara teori, langkah ini juga bisa menjadi pendorong minat investor jangka pendek sambil mempertimbangkan kinerja operasional perusahaan.
Rasio 1:5 berarti setiap pemegang saham lama menerima lima lembar saham baru untuk setiap satu lembar saham lama. Saham lama akan diperdagangkan hingga 15 Juli 2026, sedangkan saham dengan nilai nominal baru mulai diperdagangkan pada 20 Juli 2026. Hal ini memberi ruang bagi investor untuk menyesuaikan posisi secara bertahap.
Berdasarkan penutupan 3 Juni 2026, harga teoritis RAJA setelah stock split diperkirakan berada di sekitar Rp660 per saham, sehingga estimasi nilai satu lot menjadi sekitar Rp66.000. Angka tersebut bersifat teoretis dan bisa berubah tergantung dinamika pasar. Pihak perseroan menegaskan bahwa rincian ini adalah estimasi berdasarkan data yang tersedia.
RUPS menekankan bahwa stock split dimaksudkan untuk meningkatkan likuiditas dan memperluas basis investor ritel. Proyeksi peningkatan aktivitas perdagangan diharapkan memberikan dampak positif terhadap volatilitas harga jangka pendek, namun manfaat jangka panjang bergantung pada kinerja perusahaan. Analisis ini, disusun oleh Cetro Trading Insight, menilai bahwa emiten dengan likuiditas lebih baik cenderung menarik lebih banyak minat investor ritel.
| Parameter | Nilai |
|---|---|
| Rasio | 1:5 |
| Nominal lama | Rp25 |
| Nominal baru | Rp5 |
| Saham beredar lama | 4.227.082.500 |
| Saham beredar baru | 21.135.412.500 |
| Tanggal perdagangan lama berakhir | 15 Juli 2026 |
| Tanggal perdagangan baru mulai | 20 Juli 2026 |
| Harga teoritis (3 Jun 2026 close) | Rp660 per saham |
| Nilai per lot (teoritis) | ≈ Rp66.000 |
Penting untuk dicatat bahwa stock split tidak mengubah nilai total ekuitas perusahaan secara langsung; nilai wajar RAJA tetap bergantung pada kinerja operasional, arus kas, dan prospek bisnis. Perubahan nominal dan jumlah saham hanya mengubah struktur harga per lembar dan likuiditas. Oleh karena itu investor perlu menilai fundamental perusahaan selain faktor teknikal.
Dampak terhadap likuiditas bisa positif karena investor ritel lebih mudah membeli lot standar. Namun volatilitas jangka pendek bisa meningkat karena penyesuaian harga pasca-split dan spekulasi pasar. Investor sebaiknya memperhatikan perubahan spread, likuiditas harian, dan kinerja fundamental perusahaan setelah split.
Cetro Trading Insight menyarankan investor memantau harga, volume, dan spread likuiditas setelah split. Disarankan juga mengecek perubahan basis investor dan partisipasi ritel. Rekomendasi ini penting untuk menilai apakah peningkatan likuiditas berjalan sesuai harapan.