Menurut analisis terbaru dari ING, Reserve Bank of New Zealand (RBNZ) diperkirakan menjaga suku bunga tidak berubah pada pertemuan 18 Februari. Namun, proyeksi inflasi serta tingkat kebijakan diperkirakan akan direvisi ke atas, yang secara tidak langsung menguatkan sinyal pengetatan kebijakan di masa mendatang. Publikasi ini memperkuat narasi bahwa langkah-langkah hawkish bisa muncul meski keputusan awal bersifat netral di muka.
Para analis menilai perubahan proyeksi ini bakal menjadi konfirmasi bagi jalur pengetatan yang diantisipasi pasar. ING menilai bahwa dua kenaikan suku bunga tambahan mungkin diperlukan pada kuartal ketiga, sehingga tingkat kebijakan bisa mencapai 2,75% menjelang akhir tahun. Dampak utamanya terlihat pada potensi dukungan medium-term bagi NZD/USD meski ada risiko volatilitas akibat dinamika pasar ekuitas.
Dalam konteks data rilisan, saat ini fokus pasar tertuju pada laporan CPI kuartal pertama yang direncanakan dirilis 20 April, dengan dua pertemuan RBNZ—18 Februari dan 8 April—yang diharapkan memberi panduan lebih lanjut. Cetro Trading Insight mencatat bahwa pergerakan berikutnya akan sangat bergantung pada bagaimana laporan inflasi dan perkiraan kebijakan mengkomunikasikan bias kebijakan ke depan.
Pasar saat ini memperkirakan sekitar 40 basis poin pengetatan total pada akhir tahun, dengan sekitar 18 basis poin sudah diharga untuk September. Proyeksi ini sejalan dengan narasi bahwa RBNZ akan mengunci arah kebijakan lebih agresif, meskipun volatilitas jangka pendek masih tinggi di tengah kekhawatiran risiko pasar.
Ketika tantangan likuiditas dan dinamika suku bunga global membaik, respons mata uang terhadap spekulasi kenaikan bunga bisa memperkuat NZD terhadap mitra utama seperti AUD dalam kerangka beberapa pekan mendatang. Namun, para trader disarankan untuk mewaspadai potensi pembalikan jika inovasi kebijakan dinilai terlalu agresif atau jika sentimen risiko pasar memburuk.
Selain itu, para peneliti mengingatkan bahwa pandangan ekonomi jangka menengah tetap mendukung US dollar yang cenderung melemah secara umum, sambil melihat potensi NZD/USD mencapai sekitar 0,62 oleh akhir tahun. Risiko koreksi tetap ada mengingat posisi NZD yang telah meningkat terlalu cepat jika dibandingkan dengan faktor pendorong jangka pendek.
Analisis fundamental menekankan bahwa fokus utama tetap pada bagaimana RBNZ menafsirkan inflasi dan bagaimana proyeksi kebijakan berubah seiring berjalannya data. Ketika bank sentral mengisyaratkan kemungkinan kenaikan belakangan, ekspektasi pasar cenderung menambah tekanan pada pasangan mata uang terkait.
Secara teknikal, pergerakan NZDUSD masih dipengaruhi dinamika risiko ekuitas global serta aliran modal yang berputar antara aset berisiko dan aset lindung nilainya. Investor disarankan untuk memperhatikan rilis data inflasi dan pernyataan resmi bank sentral untuk mengonfirmasi arah tren yang lebih jelas.
Dalam laporan ini, Cetro Trading Insight menekankan bahwa skenario utama adalah pergeseran ke arah kelembagaan kebijakan yang lebih hawkish dengan potensi rally terbatas bila sentimen pasar rapuh. Meskipun potensi upside ada, para pelaku pasar perlu menjaga manajemen risiko karena volatilitas bisa meningkat dengan rilis data baru.