Di tengah kilau volatilitas pasar yang tak kunjung reda, SINI meluncurkan rencana rights issue yang bisa mengguncang papan atas emiten pertambangan. Rights issue ini mencakup hingga 721,5 juta saham baru, menunjukkan niat agresif perusahaan untuk memperbesar kapasitas ekspansi dan memperbaiki struktur keuangan. Rencana ini akan dibawa ke Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) pada 26 Mei 2026 untuk persetujuan formal. Menurut analisa awal dari Cetro Trading Insight, langkah ini memiliki potensi mengubah dinamika kepemilikan dan aliran kas perusahaan dalam beberapa kuartal ke depan.
Adapun penggunaan dana rights issue meliputi tiga pilar utama: akuisisi PT Kemilau Mulia Sakti dari PT Petrosea Tbk sekitar Rp1,7 triliun, pelunasan utang lebih awal, dan modal kerja. Akuisisi ini dilakukan lewat holding PT Kemilau Mulia Sakti yang memiliki aset tambang batu bara di Kalimantan Timur melalui PT Cristian Eka Pratama. Keputusan ini sangat bergantung pada eksekusi operasional aset tambang tersebut, serta dinamika harga batu bara di pasar global.
Rencana ini akan diajukan dalam RUPS yang dijadwalkan pada 26 Mei 2026, dan hingga saat ini SINI belum mengumumkan pihak pembeli siaga yang mungkin ikut menjadi bagian dari struktur pembiayaan. Selain itu, keterangan perseroan tentang nilai transaksi, akses terhadap due diligence, dan potensi skema pembiayaan tambahan masih bisa berubah seiring kajian mendalam. Secara umum, langkah ini dipandang sebagai upaya strategis untuk memperbaiki profil leverage dan mendorong ekspansi di sektor tambang batu bara.
Rencana aksi korporasi CUAN—Petrindo Jaya Kreasi Tbk—untuk mengambil alih mayoritas SINI telah menjadi sorotan utama. Sejak Desember 2025, proses kaji tuntas dan negosiasi untuk meningkatkan kepemilikan menjadi minimal 51% telah berlangsung cepat. Hingga akhir Maret 2026, CUAN telah menguasai sekitar 19,74% saham SINI, menandakan arah konsolidasi yang tangible.
Valuasi terhadap target menunjukkan ekuitas Kemilau Mulia Sakti sekitar Rp351,3 miliar pada 2025, dengan rasio price to book value (P/BV) sekitar 4,9 kali. Angka P/BV relatif lebih rendah dibandingkan P/BV PTRO yang mencapai 14,4 kali, memberi gambaran valuasi yang lebih menarik untuk akuisisi. Namun, rasio price to earnings (P/E) belum bisa dihitung karena perusahaan target masih mencatat kerugian.
Stockbit menilai aksi rights issue SINI bisa memperbaiki struktur permodalan secara signifikan dengan harga pelaksanaan Rp5.000 per saham dan estimasi dana sekitar Rp3,6 triliun, meski berpotensi mengundang dilusi hingga 60%. Jika skenario tersebut terealisasi, ekuitas SINI diproyeksikan berbalik dari posisi negatif sekitar Rp687 miliar menjadi positif sekitar Rp1,5 triliun. Hal ini membuka peluang bagi SINI untuk keluar dari papan pemantauan khusus (FCA) jika eksekusi berjalan mulus dan kondisi pasar mendukung.
Secara operasional, keberhasilan akuisisi tambang oleh SINI akan sangat tergantung pada kemampuan eksekusi proyek tambang di Kalimantan dan ketaatan pada efisiensi biaya operasional. Risiko terkait biaya tambang, regulasi lokal, dan dinamika harga komoditas tetap menjadi faktor penentu kinerja pasca-kesepakatan. Cetro Trading Insight menilai bahwa hasil proyek ini akan menjadi penentu utama arah harga SINI dalam beberapa kuartal mendatang.
Di sisi finansial, PT Petrosea (PTRO) akan menerima arus kas dari divestasi tersebut meski mungkin mencatat kerugian sekitar Rp100 miliar dibandingkan total investasi awal. Transaksi ini memberikan peluang bagi PTRO untuk fokus pada jasa pertambangan (pure-play services) dengan profil pendapatan yang lebih stabil. Namun, dampak neraca bagi PTRO dan SINI tetap bergantung pada syarat-syarat pembiayaan dan harga jual.
Bagi CUAN, akuisisi ini bisa memperjelas struktur grup dengan pemisahan fokus antara jasa pertambangan lewat PTRO dan produksi batu bara melalui SINI, sambil menambah kepastian arus kas bagi SINI. Investor perlu memantau hasil kaji tuntas serta dikukuhkan dalam RUPS karena hasilnya bisa mempengaruhi harga SINI dan persepsi risiko di pasar. Secara keseluruhan, langkah ini menggambarkan dinamika pergeseran kepemilikan dan potensi perubahan valuasi bagi pemangku kepentingan.