Di tengah gejolak pasar modal Indonesia, saham RMKO melesat tajam setelah pengumuman Penambahan Modal dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu atau rights issue. Langkah ini dipandang sebagai bagian dari upaya perusahaan memperkuat struktur permodalan sambil mempertahankan dinamika pertumbuhan. Cetro Trading Insight menilai bahwa meski secara jangka pendek ada peluang kenaikan harga, risiko dilusi tetap menjadi faktor penting yang perlu diperhatikan investor.
Di sesi perdagangan hari itu, RMKO menembus level Rp725, akhirnya menutup sesi I dengan kenaikan 25 persen. Rekam jejak perdagangan menunjukkan 591 ribu lot saham diperdagangkan dengan nilai transaksi sekitar Rp42,2 miliar. Antrian beli di harga pucuk juga membubung hingga mendekati 70 ribu lot, menandakan minat beli yang kuat pada momen ini.
Sebelumnya, saham RMKO sempat menembus Rp1.000 pada 19 Februari 2026, sebelum terkoreksi 43 persen ke level Rp580 dan akhirnya rebound pada hari ini. Pergerakan ini menggambarkan volatilitas tinggi yang biasa terjadi pada saham konstruksi dan pertambangan ketika adanya perubahan struktur modal. Secara kebijakan pasar, respons investor tetap terjaga meski tingkat risiko cukup signifikan.
Manajemen RMKO mengumumkan rencana PMHMETD dengan penerbitan saham baru sebanyak-banyaknya 512 juta lembar, yang jika terealisasi dapat menimbulkan dilusi pemegang saham hingga sekitar 29,06 persen. Rencana ini menjadi pilar utama untuk memperkuat modal perseroan dan memperbesar kapasitas pembiayaan proyek.
Dana dari rights issue direncanakan untuk memperkuat modal kerja serta mendukung pengembangan usaha perseroan. Seluruh dana yang diperoleh akan digunakan setelah dikurangi biaya emisi, sesuai pernyataan manajemen yang disampaikan kepada publik. Rencana ini masih bersifat awal dan rincian lebih lanjut akan diatur dalam prospektus yang akan dirilis.
RMKO juga akan meminta persetujuan pemegang saham melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa atau RUPSLB yang dijadwalkan pada 8 April 2026. Dengan demikian, langkah ini masih bergantung pada persetujuan pemegang saham dan kepatuhan regulasi pasar modal. Bila harga pelaksanaan diasumsikan di level penutupan kemarin, potensi dana yang bisa diraup mencapai sekitar Rp300 miliar.
Dari sudut pandang fundamental, rights issue memberi peluang bagi RMKO untuk memperkuat likuiditas dan kapasitas operasional. Namun, dilusi 29,06 persen juga menandai risiko bagi kepemilikan pemegang saham lama, terutama jika investor menimbang alokasi saham baru terhadap aset lain. Dalam hal ini, investor perlu menimbang proyeksi arus kas dan prospek proyek perseroan.
Dari sisi teknikal, pergerakan harga menunjukkan volatilitas tinggi akibat berita korporasi. Aksi beli pasca pengumuman menambah likuiditas jangka pendek, meski reli belum tentu berlanjut tanpa konfirmasi rencana penggunaan dana yang jelas. Investor disarankan memperhatikan prospektus dan update RUPSLB untuk menyaring sinyal transaksi lebih lanjut.
Secara keseluruhan, Cetro Trading Insight menilai bahwa rekomendasi trading saat ini belum jelas karena dinamika rights issue dapat mengubah rasio kepemilikan dan kebutuhan modal kerja. Investor disarankan berhati-hati terhadap volatilitas harga dan likuiditas saham RMKO. Untuk analisis lebih lanjut, tetap pantau rilis prospektus dan perkembangan RUPSLB pada 8 April 2026.