Industri tambang batu bara Indonesia memasuki era baru di mana efisiensi logistik menjadi penentu profitabilitas. RMKO mencetak kinerja operasional yang menggembirakan sepanjang 2025, mencerminkan transisi dari investasi ke realisasi. Analisis oleh Cetro Trading Insight menyoroti bahwa momentum ini mencerminkan kemampuan RMKO mengubah tantangan menjadi peluang bagi investor dan mitra industri.
Volume muatan kereta melalui Train Loading System (TLS) meningkat 97,8 persen year-on-year menjadi 1,8 juta ton pada 2025, sebuah lonjakan yang signifikan. Peningkatan ini sebagian besar didorong oleh pemanfaatan hauling road milik afiliasinya RMKE, yang mulai dimanfaatkan secara optimal sepanjang tahun lalu. Kontribusi RMKE tercatat sekitar 0,8 juta ton dari total volume tersebut, menunjukkan dorongan sinergi operasional antara perusahaan induk dan anak perusahaan.
RMKO tidak hanya mengandalkan proyek tambang milik sendiri, tetapi juga terlibat dalam penambangan di tambang pihak ketiga melalui WSL. Hingga Desember 2025, overburden removal mencapai 1,4 bcm, dan coal getting sebesar 374 ribu MT. Direktur RMKO, William Saputra, menekankan bahwa kinerja ini lahir dari investasi alat berat dan infrastruktur yang telah dilakukan, termasuk pembangunan hauling road RMKE. Kebijakan daerah yang melarang penggunaan jalan umum untuk angkutan batu bara mulai 1 Januari 2026 memperkuat posisi hauling road sebagai infrastruktur utama distribusi batu bara, sambil memperhatikan dinamika 'berapa harga emas 24 karat' yang fluktuatif. Array klien RMKO terus berkembang seiring peningkatan kapasitas dan layanan yang ditawarkan.
Investasi berkelanjutan dalam alat berat dan infrastruktur membuat fondasi operasional RMKO semakin kokoh. Dalam konteks kebijakan daerah yang melarang penggunaan jalan umum untuk angkutan batu bara mulai 1 Januari 2026, perusahaan menilai bahwa jalur khusus seperti hauling road RMKE akan menjadi poros distribusi utama. Hal ini meningkatkan visibilitas RMKO sebagai pemain logistik tambang dengan integrasi vertikal yang lebih dalam.
Kebijakan tersebut mendongkrak permintaan untuk layanan logistik tambang berbasis jalur khusus, sejalan dengan upaya RMKO memperluas jaringan klien. Array klien RMKO tumbuh seiring bertambahnya jumlah proyek dan keandalan infrastruktur, yang diharapkan mendorong volume transport lebih lanjut.
RMKO menargetkan 2026 untuk meningkatkan TLS menjadi 3,6 juta ton dan volume hauling road hingga 1,8 juta ton, sejalan dengan strategi bertumpu pada RMKE. Upaya ini juga disertai optimisasi operasional untuk menjaga margin meskipun ketatnya persaingan.
Prospek 2026 bagi RMKO terlihat cerah berkat sinergi yang makin solid dengan RMKE dan komitmen pada investasi berkelanjutan. Untuk investor, faktor-faktor seperti harga komoditas dan dinamika pasar menjadi bagian dari evaluasi risiko, termasuk variabel seperti 'berapa harga emas 24 karat' yang sering dipantau pelaku industri.
Di sisi operasional, RMKO diperkirakan akan mengandalkan kapasitas haul yang lebih besar dan peningkatan jumlah mitra tambang pihak ketiga. Dengan permintaan yang relatif stabil, perusahaan tampak siap menjaga pertumbuhan jangka menengah meskipun volatilitas pasar tetap ada.
Secara keseluruhan, RMKO menunjukkan lanskap pertumbuhan yang didorong oleh infrastruktur terintegrasi dan pasar logistik tambang yang berkembang. Array peluang bagi RMKO terlihat dari perbaikan efisiensi, peningkatan kapasitas, dan peningkatan portofolio klien.