Rupee India melemah mendekati level terendah sepanjang masa sekitar 92,00 terhadap USD. Investor Institusional Asing (FII) terus menjual saham mereka di pasar ekuitas India. Tekanan keluar modal ini menambah volatilitas pada pasangan USD/INR dan menahan upaya pemulihan mata uang lokal.
Pembukaan Jumat menunjukkan INR mempertahankan kerugian mingguan terhadap USD, seiring para pelaku pasar menanti perkembangan negosiasi antara AS dan India. Meski demikian, para negosiator kedua negara menyatakan optimisme pada kemajuan menuju konsensus. Pasar tetap mencermati sinyal dari kedua pihak terkait kerangka kesepakatan perdagangan.
Secara teknikal, USD/INR tetap didorong oleh EMA 20-hari yang naik dan berada di atasnya. RSI 14-hari berada di wilayah sekitar 72,8 yang mengindikasikan momentum kuat meski area overbought. Support utama tampaknya berada di sekitar EMA 20-hari, sehingga pembeli perlu menjaga harga tidak menembus level tersebut.
Di ranah makro global, PMI HSBC India untuk Januari menunjukkan pembentukan output manufaktur dan jasa yang lebih kuat dari ekspektasi. Data ini menambah tekanan pada Rupiah karena aliran modal asing masih berlanjut keluar dari pasar saham India. Skenario ini memperkuat narasi defisit arus modal yang membebani mata uang lokal.
Investor global menantikan pengumuman pengganti Ketua Federal Reserve, dengan beberapa kandidat teratas telah disebutkan publik. Trump secara terbuka menyatakan ia akan mengumumkan calon yang dianggap sangat cocok segera. Ketidakpastian kebijakan Federal Reserve menambah volatilitas pada USD/INR dan aset berisiko lainnya.
Kebijakan perdagangan AS-UE yang belum lama diselesaikan telah memberikan dampak positif terhadap dolar dalam jangka pendek, meskipun para analis menilai solusi tersebut bersifat sementara. Beberapa ahli menekankan bahwa kekuatan dolar sebagai mata uang cadangan bisa tergerus jika aliansi internasional memburuk. Pasar akan terus memantau arah kebijakan global untuk menilai risiko pada pasangan USDINR.
Secara teknikal, USD/INR tetap diperdagangkan di atas EMA 20-hari yang sedang naik. Hal ini menguatkan bias kenaikan untuk jangka pendek dan mendukung peluang uji resistance berikutnya. Namun volatilitas tetap ada karena posisi mata uang lain dan dinamika aliran modal.
RSI 14-hari berada di sekitar 72,8, menandakan momentum yang kuat namun mendekati kondisi jenuh beli. Harga berada di area yang membuat pembeli berhati-hati sambil tetap menjaga tren naik selama harga tidak jatuh di bawah EMA 20-hari. Level support teknikal terdekat berada di EMA 20-hari sebagai zona proteksi bagi pembeli.
Dalam konteks manajemen risiko, rekomendasi strategi saat ini adalah posisi beli dengan jarak risiko-ke-imbalan lebih dari 1:1,5. Pembaca disarankan untuk menempatkan stop loss dekat EMA 20-hari dan menargetkan pergerakan menuju level resistance berikutnya. Skenario ini mengandalkan kontinuitas tekanan pada dolar terhadap rupiah jika arus FII tetap lemah dan sentimen global tetap netral hingga positif.