Rupiah Menguat di Pembukaan Perdagangan, Namun Risiko Lonjakan Harga Minyak dan Ketegangan Geopolitik Bayangi Arah Pasar

Rupiah Menguat di Pembukaan Perdagangan, Namun Risiko Lonjakan Harga Minyak dan Ketegangan Geopolitik Bayangi Arah Pasar

trading sekarang

Pembukaan perdagangan Selasa membuat rupiah melaju ke level Rp16.894 per dolar AS. Pergerakan ini mengakhiri sesi kemarin di Rp16.949 dan menandai penguatan sekitar 0,33 persen. Berdasarkan data Bloomberg pukul 09.48 WIB, rupiah sempat menguat ke Rp16.889 per dolar AS, menunjukkan dorongan yang lebih luas di pasar Asia.

Laju rupiah didorong oleh pelemahan indeks dolar AS yang turun sekitar 0,12 persen menjadi 98,84. Pelemahan greenback menciptakan ruang bagi mata uang Asia untuk mempertahankan momentum positifnya di awal sesi. Meski demikian, pelaku pasar tetap menjaga ekspektasi volatilitas karena faktor-faktor global yang bisa berubah cepat.

Analis Ibrahim Assuaibi menyatakan rupiah tetap berisiko ditutup melemah di kisaran Rp16.950 hingga Rp17.000 per dolar AS. Ia menilai eskalasi konflik antara AS dan Iran menjadi faktor utama tekanan, terutama karena dampaknya pada harga minyak mentah. Di sana, volatilitas minyak yang meningkat berpotensi membentuk arah rupiah dalam beberapa sesi ke depan.

Harga minyak mentah melonjak hingga sekitar 30 persen, melonjak melewati USD100 per barel dan mendekati level tertinggi yang terlihat sejak awal perang Rusia–Ukraina pada 2022. Lonjakan tersebut memberi tekanan pada proyeksi fiskal karena asumsi APBN 2026 menempatkan harga minyak lebih rendah. Kondisi ini meningkatkan risiko defisit fiskal jika tidak diimbangi oleh kebijakan fiskal yang tegas.

Penunjukan Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tinggi Iran dipandang pasar sebagai sinyal bahwa kelompok garis keras masih menguasai kekuasaan penuh, sehingga konflik diperkirakan belum mereda dalam waktu dekat. Pasar menilai risiko geopolitik meningkat, yang bisa memicu fluktuasi harga energi dan aliran modal. Para pelaku pasar juga mencermati bagaimana respons negara-negara besar terhadap eskalasi regional ini.

Di sisi domestik, harga minyak dunia yang menyentuh sekitar USD92 per barel telah melampaui asumsi makro APBN 2026 yang dipatok pada USD70 per barel. Beberapa analis memperkirakan defisit menuju Rp6,8 triliun jika harga minyak tetap tinggi, dan defisit terhadap PDB bisa mendekati 4 persen jika harga minyak melonjak lebih lanjut. Skenario ini menambah beban fiskal dan menambah tekanan pada nilai tukar jika kebijakan fiskal tidak menahan boros anggaran.

Katalis Global dan Strategi Taktis bagi Investor

Di kancah global, data inflasi konsumen China tumbuh 1,3 persen secara tahunan pada Februari 2026, tercepat dalam tiga tahun terakhir. Angka tersebut menambah dorongan bagi investor untuk menilai arah permintaan komoditas global dan arus modal. Namun inflasi produsen China masih mengalami kontraksi, menciptakan ketidakpastian mengenai kesinambungan permintaan pasca-liburan.

Sementara itu, pasar global juga memantau pergerakan indeks dolar yang melemah sekitar 0,12 persen ke level 98,84, memberi ruang bagi sebagian aset berisiko untuk menguat. Kondisi ini bisa membuat aliran modal menuju negara berkembang kembali, meski volatilitas tetap tinggi akibat dinamika geopolitik. Investor perlu menjaga sikap waspada terhadap perubahan kebijakan moneter dan harga komoditas energi.

Bagi investor ritel, rekomendasi utama adalah menahan diri dari mengambil posisi besar sebelum ada konfirmasi arah yang lebih jelas. Cetro Trading Insight menekankan pentingnya manajemen risiko, diversifikasi portofolio, dan penggunaan level stop loss yang ketat. Karena saat ini tidak ada sinyal jelas untuk strategi buy atau sell pada USDIDR, pendekatan yang prudensial adalah menunggu kepastian pasar sambil memantau pergerakan minyak, dolar, dan data inflasi utama.

broker terbaik indonesia