Rupiah Menguat di Tengah Ketegangan Global, BI Naik Suku Bunga: USDIDR Berpotensi Menguat | Analisis Cetro Trading Insight

Rupiah Menguat di Tengah Ketegangan Global, BI Naik Suku Bunga: USDIDR Berpotensi Menguat | Analisis Cetro Trading Insight

Signal USD/IDRBUY
Open17653
TP17800
SL17555
trading sekarang

Rupiah memulai sesi perdagangan dengan lonjakan tipis yang menarik perhatian pasar, ditutup di sekitar Rp17.653 per USD. Gelombang optimisme datang meskipun ketegangan geopolitik di Timur Tengah masih membayangi pasokan global. Investor menilai bahwa pernyataan Presiden AS dan dinamika kebijakan moneter bisa mempengaruhi arus modal serta ekspektasi inflasi dalam beberapa minggu ke depan.

Sentimen global dipicu oleh pernyataan Presiden AS Donald Trump bahwa perang dengan Iran kemungkinan berakhir sangat cepat, meski pasar tetap waspada terhadap dampak pada pasokan minyak. Harga minyak saat ini lebih tinggi, yang pada gilirannya mengangkat tekanan inflasi di ekonomi utama. Para pelaku pasar juga mencermati peluang The Fed menaikkan suku bunga dalam beberapa bulan mendatang.

Di sisi domestik, pidato Presiden Prabowo Subianto di DPR menegaskan target pertumbuhan ekonomi 5,8 persen hingga 6,5 persen pada 2027. Meski optimisme tumbuh, Prabowo menyoroti tantangan, termasuk penurunan kelas menengah dan peningkatan kemiskinan. Pasar menilai kebijakan fiskal dan moneter akan tetap berfokus pada menjaga stabilitas nilai tukar dan menahan inflasi.

Bank Indonesia memutuskan menaikkan BI Rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,25 persen, melanjutkan upaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Deposit Facility dan Lending Facility juga direvisi ke level 4,25 persen dan 6,25 persen, sebagai bagian dari rangkaian kebijakan untuk membatasi volatilitas. Langkah ini dipilih untuk menahan tekanan biaya pinjaman dan menjaga daya saing ekonomi domestik.

Di sisi global, tekanan inflasi meningkat karena harga minyak mentah yang lebih tinggi. Pasar memperkirakan peluang The Fed menaikkan suku bunga sekitar 25 basis poin pada akhir tahun, meski probabilitasnya naik menjadi hampir 50 persen menurut CME FedWatch. Kebijakan moneter yang lebih ketat di negara maju cenderung mendongkrak permintaan terhadap aset aman dan memperbesar volatilitas mata uang negara berkembang.

Pembahasan APBN menyinggung target pendapatan negara 11,82 hingga 12,40 persen terhadap PDB, pengeluaran 13,62 hingga 14,80 persen terhadap PDB, dengan defisit 1,8 hingga 2,4 persen. Pemerintah menegaskan komitmen untuk menekan defisit meski pertumbuhan ekonomi menapak, serta menjaga stabilitas makroekonomi sebagai prasyarat investasi. Kebijakan fiskal dan pembiayaan anggaran menjadi kunci bagi prospek inflasi dan arus modal.

Prospek Ekonomi Indonesia dan Outlook

Pemantau menilai ekonomi Indonesia berpotensi melaju di kisaran 5,8 persen hingga 6,5 persen pada 2027, meski tantangan kemiskinan dan penurunan kelas menengah perlu diatasi. Selain itu, target inflasi 1,5 hingga 3,5 persen menjadi komponen penting dalam menjaga kenyamanan biaya hidup bagi rumah tangga. Kebijakan pemerintah yang terkoordinasi antara fiskal dan moneter diharapkan mampu menjaga dinamika pertumbuhan tanpa menumpuk tekanan harga.

Di sektor energi, proyeksi lifting minyak mentah nasional antara 602 ribu hingga 615 ribu barel per hari, dengan gas bumi setara minyak 934 ribu hingga 977 ribu boe per hari. Angka-angka tersebut memberi gambaran pada tingkat pasokan domestik dan dampaknya terhadap inflasi, terutama jika harga minyak global bergerak tinggi. Investasi infrastruktur energi juga menjadi pilar penting bagi ketahanan energi dan pertumbuhan industri.

Analisis Cetro Trading Insight menunjukkan bahwa rupiah akan bergerak fluktuatif dalam beberapa minggu ke depan, dengan kemungkinan penutupan melemah di kisaran Rp17.650 hingga Rp17.700 per USD. Kondisi ini memperkuat peluang trading pada pasangan USDIDR bagi investor yang percaya pada retracement fiskal dan kebijakan moneter. Oleh karena itu, perhatikan level kunci dan volatilitas pasar untuk keputusan investasi tetap rasional.

banner footer