
Rupiah melangkah gagah di akhir sesi perdagangan dengan dukungan kebijakan yang dirancang untuk menahan gejolak global. Bank Indonesia menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi 5,50 persen, sebuah langkah yang dinilai memperkuat fondasi stabilitas nilai tukar. Momentum ini diharapkan memberi sinyal tegas bahwa kebijakan moneter domestik bersatu dengan upaya menjaga daya beli dan inflasi tetap terkendali.
Menurut laporan Bloomberg, rupiah menguat 129,5 poin atau 0,71 persen ke level Rp18.058 per USD. Respons pasar mencerminkan keyakinan bahwa kebijakan BI memiliki kemampuan menahan tekanan eksternal sambil menjaga arus modal masuk. Langkah ini juga dinilai sebagai upaya pre-emptive untuk menjaga inflasi pada 2026 dan 2027 agar tetap berada dalam kisaran sasaran pemerintah.
Bank Indonesia menegaskan perlunya tindakan lanjutan untuk memperkuat stabilisasi nilai tukar melalui peningkatan imbal hasil dan insentif lain bagi aliran investasi asing. Dalam konteks itu, pemerintah juga menilai pentingnya membahas paket stimulus ekonomi dan perkembangan Indonesia Financial Center (IFC) sebagai instrumen penguatan sektor keuangan nasional.
Kebijakan ini dirancang untuk menjaga stabilitas rupiah dengan mempercepat respons terhadap perubahan pasar serta meningkatkan daya tarik bagi investor asing melalui imbal hasil yang lebih kompetitif. BI menekankan bahwa langkah-langkah lanjutan perlu diambil untuk menahan volatilitas kurs di tengah dinamika global. Upaya ini diharapkan menjaga kurs dalam jalurnya meski tekanan eksternal membayangi.
Sejalan dengan itu, posisi cadangan devisa menurun menjadi USD144,9 miliar pada akhir Mei 2026, tertinggi terendah sejak Juli 2024. Penurunan ini terutama didorong oleh pelunasan utang luar negeri pemerintah, penerbitan surat utang obligasi global, serta transaksi perpajakan. Kondisi ini menjadi pengingat bahwa stabilitas fiskal dan likuiditas perlu dipertahankan melalui langkah kebijakan yang terukur.
Pengamat Pasar Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi menilai pemerintah berupaya menyiapkan paket stimulus ekonomi untuk menjaga daya beli sekaligus membahas kemajuan proyek IFC sebagai instrumen penguatan sektor keuangan nasional. Selain itu, sentimen eksternal membaik setelah Iran dan Israel menyatakan penghentian serangan, meskipun ada potensi risiko jika eskalasi berlanjut.
Di ranah global, persepsi risiko cenderung membaik pasca jeda konflik regional dan pernyataan penting terkait upaya menghentikan perang di kawasan yang mempengaruhi sentimen pasar. Investor pun mulai menimbang implikasi kebijakan moneter bank sentral utama, terutama AS, terhadap arus modal masuk negara berkembang. Secara umum, suasana pasar cenderung lebih berhati-hati namun lebih stabil dibanding beberapa bulan sebelumnya.
Inflasi yang didorong energi tetap menjadi perhatian karena dapat menjaga imbal hasil obligasi dan mengimbangi prospek penurunan suku bunga The Fed. Pelaku pasar memantau rilis Indeks Harga Konsumen (CPI) AS untuk Mei, yang diperkirakan naik 4,2 persen YoY, setelah 3,8 persen pada bulan sebelumnya. Kondisi ini menambah faktor volatilitas bagi mata uang asing dan mempengaruhi aliran dana ke aset berisiko di negara berkembang.
Dengan dukungan kebijakan BI dan dinamika global yang relatif stabil, Rupiah berpeluang berada dalam kisaran wajar pada jangka pendek. Namun investor tetap perlu waspada terhadap potensi gejolak geopolitik yang bisa memicu perubahan sentiment secara tiba-tiba. Dalam skenario ini, pendekatan manajemen risiko menjadi krusial bagi para pelaku pasar.