Rupiah akhirnya menutup perdagangan melemah setelah Bank Indonesia mempertahankan suku bunga di level 4,75 persen. Laporan ini disusun oleh Cetro Trading Insight dan menekankan bahwa pasar menilai risiko eksternal maupun internal secara berimbang. Pada penutupan kemarin, rupiah menyentuh Rp16.894 per USD, turun sekitar 10 poin dari level sebelumnya.
Sentimen eksternal tetap dipengaruhi oleh ketegangan geopolitik di Timur Tengah serta dinamika kebijakan AS terhadap Iran. Wapres AS, JD Vance, menyatakan bahwa Iran gagal memenuhi tuntutan utama dalam negosiasi, sementara Washington memberi Tehran dua minggu untuk mengatasi perbedaan. Laporan ini juga menyoroti peningkatan aktivitas militer di Teluk yang memperkuat kekhawatiran pasokan energi dan volatilitas pasar finansial global.
Secara umum, risalah pertemuan kebijakan Federal Reserve menunjukkan adanya perbedaan pendapat mengenai kelanjutan kenaikan suku bunga. Banyak pejabat sepakat bahwa inflasi tetap cenderung naik, meski pandangan soal durasi dan keketuatan kebijakan bervariasi. Pasar juga menilai ekspektasi penurunan suku bunga Fed tahun ini telah melunak, meskipun kontrak berjangka menunjukkan peluang penurunan pada Juni. Investor menantikan data PCE AS untuk arah kebijakan yang lebih jelas.
IMF menyarankan Indonesia mempertimbangkan kenaikan Pajak Penghasilan karyawan atau PPh 21 secara bertahap untuk menjaga defisit APBN di bawah target 3 persen dari PDB. Namun pemerintah menolak usulan tersebut dan menekankan komitmen pada perluasan basis pajak serta penutupan kebocoran penerimaan. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa pemerintah tidak akan menaikkan tarif pajak sebelum ekonomi benar benar kuat, sambil fokus pada langkah struktural untuk meningkatkan kepatuhan pajak.
IMF mencatat defisit anggaran Indonesia pada 2025 berada di kisaran 2,92 persen terhadap PDB, mendekati batas maksimal 3 persen yang ditetapkan pemerintah. Laporan itu menilai peningkatan investasi publik dapat mendorong pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja, namun memerlukan pembiayaan berkelanjutan. Salah satu skenario yang disimulasikan adalah kenaikan bertahap pajak penghasilan tenaga kerja untuk mengurangi ketergantungan pada pembiayaan defisit.
Secara jangka panjang IMF menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara investasi publik yang mendorong produktivitas dengan sumber pembiayaan yang berkelanjutan. Dalam kajian fiskal, IMF menyarankan beberapa opsi pembiayaan termasuk peningkatan bertahap pajak tenaga kerja untuk memperkuat investasi publik serta menurunkan defisit tanpa mengorbankan pendapatan negara. Rekomendasi ini menambah konteks bagi kebijakan fiskal Indonesia menuju Visi Emas 2045.
Analisis teknikal dan fundamental menunjukkan rupiah cenderung bergerak secara fluktuatif dalam kisaran Rp16.890 hingga Rp16.930 per USD pada perdagangan selanjutnya. Rincian volatilitas ini dipicu kombinasi ketidakpastian global dan respons kebijakan domestik terhadap dinamika suku bunga. Dalam konteks ini, investor cenderung berhati-hati menilai level support dan resistance sambil menilai sinyal dari rilis data ekonomi.
Data inflasi dan inflasi yang dirilis PCE AS menjadi fokus utama bagi pergerakan USDIDR. Pasar menunggu arahan kebijakan moneter AS setelah rilis PCE, yang berpotensi mengubah ekspektasi mengenai pelonggaran atau pengetatan FOMC. Skenario ini berpotensi meningkatkan volatilitas kurs, terutama jika angka inflasi menunjukkan dinamika yang berbeda dari konsensus pasar.
Dalam konteks sinyal perdagangan, isi artikel menunjukkan bahwa tidak ada sinyal beli atau jual yang jelas untuk USDIDR berdasarkan data yang tersedia. Oleh karena itu sinyal dinyatakan no dengan level risiko null. Investor disarankan menunggu konfirmasi teknikal atau data fundamental yang lebih kuat sebelum mengambil posisi.