Rupiah ditutup melemah 39 poin atau sekitar 0,23 persen terhadap dolar AS, berada di level Rp17.041 per USD pada perdagangan Selasa (31/3/2026). Pasar mata uang global sedang menilai risiko geopolitik yang berdampak pada aliran modal ke negara berkembang. Menurut analisis dari Cetro Trading Insight, dinamika ini menegaskan bahwa sentimen geopolitik menjadi penentu utama pergerakan rupiah di tengah fluktuasi pasar energi global.
Sementara itu, aset energi menunjukkan peningkatan volatilitas yang signifikan. Brent berjangka melonjak secara bulanan, dengan kenaikan sekitar 59 persen pada Maret, sementara WTI naik sekitar 58 persen. Kenaikan harga energi seperti ini menambah tekanan pada inflasi serta biaya produksi, yang pada gilirannya mempengaruhi likuiditas dan arah aliran modal di pasar domestik.
Analisis Ibrahim Assuaibi menyoroti ancaman terhadap pasokan energi melalui jalur laut akibat konflik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel. Laporan menyebut kapal tanker milik Kuwait Petroleum Corp yang membawa minyak mentah berpotensi menjadi sasaran serangan, menambah risiko tumpahan minyak dan gangguan operasional di jalur perdagangan utama. Ketidakpastian ini menambah volatilitas rupiah dan menuntut kehati-hatian dari pelaku pasar.
Di kancah geopolitik, ketegangan seputar Hormuz berimbas pada jalur Bab el-Mandeb yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden, rute penting bagi kapal yang menghubungkan Asia dan Eropa melalui Terusan Suez. Aksi militer pihak-pihak terkait meningkatkan kekhawatiran akan gangguan pelayaran serta potensi gangguan pasokan minyak global, yang pada akhirnya memicu volatilitas harga energi dan pasar keuangan global.
Segi kebijakan energi juga menjadi sorotan, karena pernyataan Amerika Serikat mengenai kemungkinan aksi terhadap fasilitas minyak Iran menambah ketidakpastian kebijakan energi global. Sinyal-sinyal ini memicu spekulasi mengenai respons pasar terhadap perubahan suplai minyak dan bagaimana hal itu akan mencerminkan risiko bagi aset berisiko di pasar negara berkembang termasuk Indonesia. Investor menilai bahwa volatilitas geopolitik bisa memperlebar spreads dan menekan indeks keuangan regional.
Dalam konteks pasar domestik, para pelaku pasar memperhatikan bagaimana ketidakpastian global dapat menekan arus modal asing. Penurunan likuiditas dan peningkatan premi risiko dapat memperlebar biaya pinjaman serta menunda keputusan investasi. Namun tetap muncul beberapa sinyal bahwa kinerja domestik masih didukung oleh konsumsi rumah tangga sebagai motor pertumbuhan utama.
Secara domestik, konsumsi rumah tangga tetap menjadi penyangga utama pertumbuhan ekonomi Indonesia. Konsumsi diperkirakan menyumbang sekitar 53–54 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), sehingga kemampuan domestik untuk menyerap guncangan global menjadi kunci stabilitas ekonomi. Di tengah perlambatan global, permintaan domestik berperan menjaga momentum meskipun tantangan eksternal meningkat.
Survei Bank Indonesia menunjukkan rumah tangga mulai lebih berhati-hati dalam berbelanja, dengan porsi pendapatan yang dialokasikan untuk konsumsi turun menjadi 71,6 persen dan porsi tabungan naik menjadi 17,7 persen. Perubahan perilaku ini menandai pergeseran pola pengeluaran yang dapat mempengaruhi laju pertumbuhan jangka pendek. Meski demikian, tingkat pengeluaran rumah tangga masih menjadi pilar utama perekonomian nasional.
Dari perspektif prospek, beberapa ekonom memperkirakan pertumbuhan ekonomi kuartal I-2026 berada di kisaran 5,1–5,2 persen, didorong oleh konsumsi rumah tangga dan belanja pemerintah. Namun hambatan utama seperti perlambatan PMTB dan tekanan net ekspor memperuncing risiko. Menutup analisis, Ibrahim memprediksi rupiah berfluktuasi dalam rentang Rp17.040–Rp17.070 per USD pada perdagangan selanjutnya, mencerminkan dinamika harga energi dan sentimen pasar yang sedang berubah.