Rupiah Tertekan di Tengah Tekanan Global: OECD Prediksi Defisit APBN 2026 Melesat hingga 3% dari PDB

Rupiah Tertekan di Tengah Tekanan Global: OECD Prediksi Defisit APBN 2026 Melesat hingga 3% dari PDB

trading sekarang

Rupiah ditutup melemah 44,5 poin atau 0,25 persen di Rp17.988 per USD, menandai ritme volatil pasar valuta asing yang kerap berubah jelang akhir pekan. Pergerakan ini menunjukkan bahwa dinamika dalam negeri maupun sentimen global masih menekan mata uang Garuda. Banyak pelaku pasar menilai lonjakan atau pelemahan kurs sering dipicu oleh berita energi, risiko fiskal, serta ekspektasi kebijakan moneter bank sentral Amerika.

Analis pasar Ibrahim Assuaibi menekankan bahwa tekanan datang dari kombinasi faktor internal dan eksternal. Secara internal, dinamika fiskal dan kebijakan subsidi energi mempengaruhi persepsi risiko investor terhadap aset berisiko. Secara eksternal, fluktuasi harga minyak dan arus aliran modal global turut membebani kurs rupiah.

Kontestasi kebijakan dan harga komoditas global turut membayangi, meskipun dukungan kebijakan fiskal masih di bawah batas aman. Pasar menunggu langkah pemerintah untuk menjaga defisit fiskal tetap berada di bawah 3 persen dari PDB. Dalam konteks ini, investor juga mengamati bagaimana aliran pendapatan negara dari ekspor komoditas akan mempengaruhi stabilitas rupiah.

Organisasi OECD mengungkap proyeksi defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Indonesia 2026 bisa melebar hingga 3 persen terhadap PDB. Angka ini menembus batas aturan fiskal yang saat ini dipakai sebagai acuan. Proyeksi tersebut menambah beban pada kurs mata uang karena investor menyimak komitmen pemerintah terhadap disiplin fiskal.

Defisit yang lebih tinggi dibanding target pemerintah pada 2026, yakni 2,7 persen, menandai perlunya penyesuaian kebijakan. Hal ini kembali dipicu tekanan harga komoditas global yang mendorong belanja subsidi dan potensi penerapan windfall tax terhadap eksportir komoditas unggulan. Investor menilai langkah kompensasi atau bauran kebijakan sebesar 0,3 persen dari PDB mungkin diperlukan untuk menjaga defisit tetap berada di bawah batas aman.

Laju pertumbuhan PDB Indonesia diperkirakan melambat menjadi 4,7 persen pada 2026 sebelum kembali pulih ke 5,0 persen pada 2027. Pertumbuhan melambat dipicu biaya energi yang meningkat dan ketidakpastian kebijakan yang dapat membebani konsumsi maupun investasi. Meski demikian, pemerintah menegaskan komitmen menjaga defisit di level aman dan mengupayakan langkah kebijakan yang tepat untuk menjaga kepercayaan pelaku pasar.

Dinamika Energi, Inflasi, dan Prospek Kebijakan Moneter Global

Harga minyak dunia relatif tinggi setelah komando militer Iran menutup Selat Hormuz, mengurangi jalur pasokan utama minyak dan membuat harga energi tetap tinggi. Penutupan tersebut menambah tekanan bagi negara net importer seperti Indonesia karena mempengaruhi biaya energi domestik dan subsidi BBM. Sinyal geopolitik ini memperkuat risiko volatilitas dolar terhadap rupiah.

Rilis data inflasi Amerika Serikat menunjukkan indeks harga konsumen naik 4,2 persen year-on-year pada Mei, tercepat dalam tiga tahun. Angka ini memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve cenderung mempertahankan suku bunga tinggi untuk waktu lebih lama. Investor juga memperhatikan potensi pengetatan kebijakan moneter jika tekanan harga terus berlanjut.

Pasar menantikan rilisan data harga produsen AS untuk memberikan petunjuk lebih lanjut tentang arah inflasi dan jalur kebijakan Fed. Kontrak berjangka menunjukkan kemungkinan satu kali kenaikan suku bunga sebelum akhir tahun, meskipun pasar masih melihat volatilitas di tengah risiko geopolitik dan variabel energi. Secara keseluruhan, analisis menunjukkan bahwa aliran modal global tetap sensitif terhadap berita energi dan kebijakan moneter.

banner footer