Rupiah Tertekan Pekan Pertama Februari 2026: Tekanan Kebijakan The Fed, Cadangan Devisa, dan Proyeksi USDIDR

Rupiah Tertekan Pekan Pertama Februari 2026: Tekanan Kebijakan The Fed, Cadangan Devisa, dan Proyeksi USDIDR

trading sekarang

Rupiah menutup perdagangan pekan pertama Februari 2026 dengan pelemahan yang tidak menggembirakan. Data menunjukkan rupiah melemah sekitar 0,53 persen secara mingguan terhadap dolar AS, baik di pasar spot maupun dalam kurs referensi BI. Pada penutupan Jumat (6/2/2026), rupiah di pasar spot terkoreksi sekitar 0,20 persen secara harian menjadi Rp16.876 per USD. Fenomena ini menandai peningkatan volatilitas pasar valas Indonesia di tengah dinamika global yang masih berubah-ubah.

Analisis menunjukkan bahwa kombinasi sentimen global dan data domestik menjadi pemicu utama pergerakan rupiah. Keputusan Presiden AS Donald Trump yang mencalonkan Kevin Warsh sebagai Ketua The Fed memicu perdebatan terkait arah kebijakan suku bunga. Warsh dipandang lebih hawkish dibanding ekspektasi pasar, sehingga pedagang menilai kemungkinan The Fed menjaga suku bunga tinggi lebih lama. Penilaian ini memperkuat tekanan terhadap rupiah dalam beberapa sesi terakhir.

Meski ekonomi Indonesia tumbuh 5,11 persen di 2025, angka itu masih berada di bawah target APBN sebesar 5,2 persen, sehingga menambah tekanan psikologis bagi investor. Cadangan devisa Indonesia pada Januari 2026 tercatat menurun menjadi USD154,6 miliar dari USD156,5 miliar pada Desember 2025. Menurunnya peluru intervensi BI membuat otoritas tidak leluasa menahan kinerja rupiah saat volatilitas meningkat. Dalam pandangan tim Cetro Trading Insight, kurs rupiah diperkirakan masih berada dalam kisaran antara Rp16.750 hingga Rp17.200 per USD pekan depan, tergantung respons kebijakan Washington dan langkah BI menjaga likuiditas pasar valas.

IndikatorNilai
Penutupan spot (6 Feb 2026)Rp16.876 per USD
Pelemahan mingguan0,53%

Faktor global menjadi motor dorong utama pergerakan rupiah pekan ini. Komentar seputar kebijakan The Fed, terutama terkait kandidat kepemimpinan bank sentral, menambah tekanan pada pasar. Keputusan Trump untuk mengusulkan Kevin Warsh sebagai Ketua The Fed menambah ketidakpastian mengenai sikap bank sentral terhadap suku bunga jangka menengah. Para pedagang menilai Warsh bisa menjaga suku bunga lebih tinggi lebih lama, sehingga arus modal menuju aset berisiko berkurang dan rupiah melemah.

Di sisi domestik, dinamika ekonomi juga turut mempengaruhi sentimen investor. Meski pertumbuhan ekonomi Indonesia 5,11 persen pada 2025, angka itu masih di bawah target APBN 5,2 persen, sehingga pasar mengambil sisi pesimis terhadap prospek neraca fiskal. Sementara itu, data cadangan devisa yang menurun menambah kekhawatiran tentang kemampuan Bank Indonesia untuk menstabilkan pasar jika volatilitas meningkat. Analisis teknis dan fundamental menunjukkan bahwa volatilitas bisa berlanjut dalam beberapa minggu mendatang.

Untuk pekan berikutnya, para analis mengharapkan rupiah bergerak dalam rentang yang luas, dengan volatilitas tetap tinggi hingga adanya sinyal jelas dari Washington maupun respons Bank Indonesia terhadap likuiditas pasar. Tim analisis di Cetro Trading Insight menilai skenario utama adalah rupiah berada di kisaran Rp16.800–Rp17.150 per USD, tergantung pelaksanaan kebijakan global dan domestik. Investor disarankan memperhatikan peluang serta risiko yang timbul dari perubahan likuiditas pasar valas dan arus modal internasional.

Saat ini, cadangan devisa Indonesia memberi gambaran tentang kemampuan Bank Indonesia mengelola volatilitas kurs. Cadangan pada Januari 2026 menurun menjadi USD154,6 miliar dibandingkan bulan sebelumnya sebesar USD156,5 miliar. Penurunan ini mengurangi kemampuan BI untuk melakukan intervensi secara agresif jika tekanan Rupiah meningkat. Para pelaku pasar memantau bagaimana BI akan menyeimbangkan likuiditas serta arah kebijakan suku bunga terhadap dinamika nilai tukar.

Lebih lanjut, dinamika ini menambah kebutuhan kehati-hatian dalam kebijakan moneter. BI menekankan fokus pada stabilitas harga dan likuiditas domestik meski ruang untuk intervensi bisa terbatas karena cadangan yang menipis. Investor perlu memantau langkah BI yang berpotensi mempengaruhi arus modal dan volatilitas pasangan mata uang utama.

Secara praktis, investor disarankan menerapkan manajemen risiko ketat dan memonitor sinyal kebijakan BI serta dampak potensialnya terhadap arus modal. Pasar akan menilai apakah BI akan mengalirkan likuiditas melalui operasi moneter atau menahan intervensi karena keterbatasan cadangan. Dengan konteks ini, fokus utama tetap pada perlindungan modal dan pemantauan peluang yang muncul dari perubahan kebijakan ekonomi global maupun domestik.

banner footer