Cetro Trading Insight membahas bagaimana rupiah ditutup melemah terhadap dolar AS pada Kamis lalu sekitar Rp16.893 per dolar. Pergerakan ini dipicu lonjakan harga minyak yang melampaui US$100 per barel setelah laporan mengenai dua kapal tanker dihantam di dekat Irak. Isu geopolitik lain seperti Oman mengevakuasi terminal ekspor dan dugaan Iran memblokir Selat Hormuz menambah kekhawatiran rantai pasokan energi. Dampak gabungan ini memperkuat kekhawatiran inflasi jangka panjang dan berimbas pada sentimen risiko global.
Faktor eksternal memicu volatilitas harga di pasar logam dan mata uang, sementara data CPI Februari dan ekspektasi data PCE menjadi fokus utama investor. Pasar menimbang kemungkinan respons kebijakan bank sentral yang lebih agresif jika tekanan harga berlanjut. Di sisi lain, kinerja APBN Indonesia hingga Februari 2026 menunjukkan sisi positif pada penerimaan pajak dan belanja negara, meski terdapat tekanan fiskal terkait pembiayaan pokok lama.
Menurut analisis kami, realisasi keseimbangan primer menunjukkan defisit meski beban bunga utang meningkat. Ketidakpastian di pasar global membentuk kerangka bagi pergerakan rupiah hari berikutnya, dengan kisaran penutupan yang diantisipasi berada di Rp16.890 hingga Rp16.920 per dolar AS.
Di tengah dinamika global, data inflasi menjadi kunci penilaian arah kebijakan moneter. Pasar menunggu rilis data CPI Februari yang sesuai ekspektasi, disusul data PCE yang akan dirilis. Indikator ini dipandang sebagai tolok ukur inflasi yang dipakai Fed untuk mengarahkan kebijakan.
Penekanan fokus pada inflasi inti dan dinamika tenaga kerja terlihat melekat pada pasar meski sinyal kebijakan beragam. Investor juga mengevaluasi potensi spillover dari harga minyak terhadap biaya produksi serta tekanan inflasi jangka panjang. Secara domestik, perbaikan penerimaan pajak dan belanja negara tetap menjadi faktor positif meski tekanan fiskal terlihat dari defisit primer.
Analisis ini menilai volatilitas rupiah akan tetap tinggi dalam beberapa sesi ke depan seiring data inflasi global dan perbincangan kebijakan moneter. Pengelola kebijakan fiskal menimbang keseimbangan antara kebutuhan pembiayaan dan stabilitas harga, dengan pandangan bahwa pelemahan mata uang dapat berlanjut jika tekanan energi berlanjut.
APBN Indonesia hingga Februari 2026 menunjukkan kinerja positif pada penerimaan pajak yang tumbuh lebih dari 30 persen dan belanja negara yang melonjak 41,9 persen. Namun keseimbangan primer mencatat defisit Rp35,9 triliun, menandai kenyataan bahwa pemerintah masih perlu menambal pokok lama melalui utang baru.
Analisis menunjukkan peningkatan beban bunga utang. Estimasi pembayaran bunga utang bulan lalu mencapai Rp99,8 triliun, setara 16,64 persen dari pagu bunga utang 2026 sebesar Rp599,4 triliun. Angka ini juga menunjukkan proporsi pembayaran bunga terhadap realisasi belanja pusat sebesar Rp346,1 triliun.
Dalam suasana global yang serba tidak pasti, Ibrahim memprakirakan pergerakan rupiah akan lebih banyak fluktuatif dengan peluang penutupan melemah pada rentang Rp16.890 hingga Rp16.920 per dolar AS. Pengamatan ini penting bagi pelaku pasar untuk menimbang keputusan trading dan alokasi risiko di tengah volatilitas energi dan kebijakan fiskal.