Perdagangan Kamis memulai sesi dengan nada positif, menampilkan kilau kebangkitan pasar global meski ketidakpastian geopolitik masih ada. Investor terbaharui optimisme berkat laporan laba perusahaan yang tumbuh kuat di kuartal terbaru. Momentum ini mendorong Wall Street mencetak rekor, memicu rebound pada indeks utama.
S&P 500 bertambah sekitar 1 persen, Nasdaq Composite melonjak 1,6 persen dan menorehkan level tertinggi sepanjang masa. Laba perusahaan yang solid menenangkan kekhawatiran daya beli konsumen di AS meski harga energi lebih tinggi. Para pelaku pasar memandang data fiskal positif sebagai pendorong utama pergerakan perdagangan global.
Kinerja regional Asia juga menguat, dengan indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang mencetak rekor kenaikan sekitar 1 persen berkat lonjakan saham-saham teknologi. Jepang, Korea Selatan, dan Taiwan membukukan rekor tertinggi untuk hari kedua berturut-turut, dengan Nikkei 225 melewati angka 60 ribu. Sinyal optimisme ini menegaskan bahwa musim laporan keuangan positif memiliki efek domino bagi risk appetite investor.
Di Asia, bursa-bursa utama bergerak beriringan menuju rekor tertinggi, walaupun dinamika berbeda antar negara. Jepang, Korea Selatan, dan Taiwan menunjukkan kekuatan berkelanjutan, dengan indikator indeks mereka menyentuh level historis. Pemulihan sektor teknologi menjadi motor utama pergerakan.
Sementara di China dan Hong Kong, volatilitas relatif lebih rendah dan kenaikan terbatas. Indeks blue chip China naik tipis, sedangkan Hang Seng turun sekitar 0,3 persen. Pergerakan yang moderat mencerminkan campuran faktor domestik dan kebijakan kebijakan yang sedang menimbang.
Kenaikan harga minyak tetap jadi sorotan meski saham naik. Brent crude naik sekitar 0,5 persen menuju USD 102,45 per barel, setelah melonjak sebelumnya. Pasokan global menjadi topik utama karena kejadian geopolitik, seperti laporan penyitaan kapal kontainer di Selat Hormuz.
Para analis menilai pasar cukup tangguh dalam menghadapi risiko beragam yang terus bertambah. Ekspansi risiko tidak bisa diabaikan selamanya meski pasar saat ini terlihat menahan tekanan. Konsensus lapangan adalah bahwa ketidakseimbangan bisa menjadi penentu di masa depan.
Di sisi lain, kontrak berjangka Wall Street cenderung sedikit melemah pada sesi Asia, menunjukkan kehati-hatian investor. Risiko pasokan energi yang lebih lama dari dugaan bisa menambah volatilitas terhadap aset berisiko.
Kata para analis, likuiditas pasar dan ekspektasi produksi energi menjadi faktor pembeda di kuartal mendatang. Skye Masters dari National Australia Bank menyoroti potensi gangguan pasokan energi yang bisa berlangsung lebih lama, menambah skenario volatilitas bagi pasar di Asia dan global.