Disusun oleh Cetro Trading Insight
Harga perak (XAGUSD) bergerak menguat ketika berita mengenai gencatan senjata AS-Iran menghilangkan sebagian kekhawatiran mengenai lonjakan harga minyak. Pelemahan pada harga minyak biasanya menekan inflasi dan meredakan tekanan atas kebijakan suku bunga. Nilai tukar dolar pada saat itu cenderung stabil, sehingga permintaan terhadap logam mulia menjadi lebih menarik bagi investor asing.
Perak sebagai logam tanpa bunga (non-interest-bearing) sering menjadi pelindung nilai ketika pasar menilai risiko menurun, seperti pada momentum ini. Meski demikian, kenaikan harga masih dibatasi oleh dinamika dolar yang fluktuatif dan oleh ketidakpastian tentang berapa lama jeda paket gencatan senjata akan bertahan. Investor juga memantau perkembangan geopolitik di wilayah tersebut untuk memahami apakah ada kejutan kebijakan di depan.
Di sisi sentimen, gejolak di kawasan Timur Tengah tetap menggores optimisme pasar. Sinyal dari Israel, Lebanon, dan Iran menambah volatilitas di pasar minyak dan aset berisiko secara global. Para pedagang menilai potensi dampak jangka pendek terhadap likuiditas logam mulia, meskipun jalur diplomasi masih belum jelas.
Rilis ekonomi dan komentar kebijakan menunjukkan nada kehati-hatian dari bank sentral utama. Minutes pertemuan Federal Reserve menunjukkan bahwa pembuat kebijakan ingin menjaga laju kebijakan sambil menilai risiko inflasi terkait harga minyak. Pasar menilai bahwa tekanan inflasi bisa menurun jika harga minyak stabil, sehingga jalur kebijakan bisa tetap berada pada jalur yang telah diantisipasi.
Di sisi lain, pernyataan Presiden Trump bahwa pasukan AS tetap berada di sekitar Iran hingga kepatuhan penuh tercapai menambah ketidakpastian diplomatik. Isu ini menjadi faktor yang mengimbangi sentimen positif karena menambah risiko geopolitik. Investor menilai implikasi risiko keuangan global, terutama bagi volatilitas terkait mata uang dan komoditas.
Sejumlah fokus pasar beralih ke laporan CPI AS yang akan dirilis mendatang, sebagai katalis utama arah kebijakan Federal Reserve. Ada ekspektasi data ini bisa mengkonfirmasi perlunya penyesuaian kebijakan jika tekanan inflasi kembali muncul. Para pelaku pasar juga menantikan risalah Fed untuk memahami nuansa kebijakan dan potensi volatilitas yang mungkin terjadi.