SSIA Melaju dengan Laba Bersih Rp89 Miliar di Kuartal III-2026 Didukung Pertumbuhan Segmen Properti

SSIA Melaju dengan Laba Bersih Rp89 Miliar di Kuartal III-2026 Didukung Pertumbuhan Segmen Properti

trading sekarang

Dalam lanskap investasi Indonesia, harga saham emas hari ini menyorot peluang pada emiten properti dengan rekam jejak solid. SSIA melaporkan laba bersih Rp89 miliar hingga kuartal III-2026. Pendapatan konsolidasian tahun ini mencapai Rp1,44 triliun, tumbuh 35 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.

Segmen properti menjadi penopang utama pendapatan, melonjak 202,1 persen menjadi Rp494,9 miliar. Segmen perhotelan juga meningkat 59,2 persen menjadi Rp162,5 miliar. Namun, segmen konstruksi tumbuh melambat akibat libur Idulfitri yang mempengaruhi aktivitas proyek.

Laba kotor SSIA naik 125,1 persen menjadi Rp451,9 miliar hingga Maret 2026. EBITDA perseroan mencapai Rp271,8 miliar, meningkat 649 persen dari periode sebelumnya. Peningkatan laba didorong perbaikan marjin pada segmen inti meski arus kas menurun.

Dalam pemantauan harga saham emas hari ini, investor menilai prospek SSIA. Meski laba meningkat, posisi kas perusahaan turun 19,9% menjadi Rp1,14 triliun. Pembayaran bunga renovasi Paradisus by Meliá Bali serta biaya pengembangan lahan menjadi faktor likuiditas.

Anak usaha SCS mencatat penjualan pemasaran lahan industri 8,2 hektare dengan nilai Rp169,1 miliar, meningkat 105% YoY. Backlog penjualan lahan SCS tercatat sebesar Rp727,4 miliar, merepresentasikan 46,3 hektare lahan. Dari backlog tersebut, 35,6 hektare telah dibukukan pada April 2026 dengan nilai Rp524,1 miliar.

Backlog yang tumbuh mendongkrak profil risiko proyek namun tetap menunjukkan dayasaing kapasitas eksekusi perusahaan. Arus kas yang lebih stabil akan menjadi kunci untuk menjaga profitabilitas ke depannya.

Prospek Jangka Panjang dan Risiko

Secara fundamental, kinerja jangka panjang SSIA didorong backlog dan ekspansi segmen properti serta hotel. Proyek di Karawang dan Subang Smartpolitan diharapkan menjaga arus kas operasional dan menambah pendapatan. Namun, risiko ekonomi makro bisa mempengaruhi timing realisasi backlog.

Analisa data dalam Array menunjukkan tren pendapatan berkelanjutan. Realisasi backlog memerlukan kepatuhan terhadap jadwal proyek. Investor juga perlu memantau likuiditas dan tekanan biaya.

Dengan sinyal fundamental yang cenderung positif, rekomendasi investor bergantung pada horizon investasi. SSIA memiliki potensi upside jika backlog terealisasi penuh dan arus kas membaik, namun tetap dihadapkan risiko likuiditas. Penilaian akhir diserahkan kepada kebijakan manajeman modal dan pengawasan BEI.

banner footer