Perang di Iran telah menghadirkan kejutan stagflasi bagi Asia, wilayah yang paling terekspos pada penutupan Selat Hormuz. Proyeksi inflasi direvisi lebih tinggi secara menyeluruh, sementara risiko pertumbuhan condong ke sisi bawah. Dampak ini terasa beragam, dengan beberapa negara menghadapi tekanan harga yang lebih besar daripada yang lain.
Minyak Brent diperkirakan rata-rata sekitar 110 dolar AS untuk periode hingga Mei, lalu turun mendekati 80 dolar AS pada paruh kedua tahun 2026. Banyak bank sentral Asia diperkirakan menahan kebijakan, meskipun ada pengecualian seperti Singapura dan Filipina yang telah menegaskan kebijakan lebih ketat. Mata uang Asia melemah terhadap dolar, menambah tekanan pada harga barang impor.
Pertumbuhan sektor elektronik Asia tetap tertopang oleh boom investasi AI, meskipun ekspor itu juga menghadapi paparan langsung dari ekspor helium dan gas khusus melalui mitiga hubungan Gulf. Pemulihan permintaan global tampaknya terangkai dengan fluktuasi harga energi dan inovasi teknologi, menjaga dinamika ekspor tetap relevan meskipun lingkungan inflasi tinggi.
Sebagian besar bank sentral Asia cenderung menunda pengetatan kebijakan karena kombinasi inflasi dan pertumbuhan yang rapuh. Namun ada pengecualian Singapura dan Filipina yang telah menegaskan kebijakan lebih ketat.
Mata uang Asia telah melemah sekitar 2.2 persen terhadap dolar sejak akhir Februari, menampung guncangan sambil menghadapi tekanan depresiasi yang tetap ada.
Proyeksi pertumbuhan Asia secara umum tidak berubah untuk saat ini, meskipun risiko turun jika konflik berlanjut dan minyak tetap tinggi. Kami menjaga proyeksi China di 4.0 persen karena valutaannya sudah berada di bawah konsensus pasar. Dalam skenario ini, lonjakan inflasi dipandang sebagai fenomena sementara, dan kebijakan dapat menyesuaikan respons jika situasi membaik.
Stagflasi minyak telah mendorong revisi inflasi untuk negara Asia secara luas. Dampaknya berbeda antar negara, dengan Filipina dan Thailand paling rentan, sementara eksportir elektronik diperkirakan lebih tahan berkat siklus investasi AI yang kuat.
Jika konflik mereda pada akhir Mei dan penutupan Selat Hormuz normal di paruh kedua, Brent diperkirakan sekitar 80 dolar AS. Dalam skenario itu, bank sentral dapat memperlakukan lonjakan inflasi sebagai fenomena sementara sehingga kebijakan dapat menjadi lebih fleksibel. Namun penutupan berkepanjangan akan mengubah kalkulus kebijakan secara signifikan.
Secara garis besar, inflasi diperkirakan tetap lebih tinggi sementara risiko terhadap pertumbuhan beragam di negara Asia. Pasar energi dan valutanya tetap menjadi fokus utama bagi investor yang mempertimbangkan risiko geopolitik dan dinamika perdagangan regional.