
HSBC strategists memperingatkan Filipina tengah menguji risiko stagflation, yaitu kombinasi pertumbuhan yang melambat dengan inflasi yang tinggi. Pertumbuhan ekonomi kuartal pertama 2026 tercatat 2,8% secara tahunan, terendah sejak 2009 jika tidak mempertimbangkan pandemi COVID-19. Data ini menegaskan bahwa dinamika pemulihan masih tertatih dan menuntut penyesuaian kebijakan yang lebih terarah.
Penyebab utama pelambatan mencakup realisasi belanja modal publik yang terus menurun serta ketidakpastian belanja publik yang membuat rumah tangga dan pelaku usaha mengurangi pengeluaran. Di saat yang sama, tabungan rumah tangga meningkat sementara investasi melemah, sehingga permintaan agregat terdorong turun secara lebih luas. Kebijakan fiskal juga perlu menimbang sektor yang paling terdampak untuk menjaga dinamika ekonomi.
Inflasi tetap menjadi ancaman utama, berada di 6,8% secara tahunan dan menjadi yang tertinggi di kawasan ASEAN. Para analis menilai bahwa jika gangguan energi mereda, pasar keuangan Filipina diperkirakan pulih relatif cepat karena respons fiskal yang tetap prudent dan fokus pada pelaksanaan program jaring pengaman yang terarah. Normalisasi energi akan menjadi kunci bagi pemulihan proyeksi ini.
Pasar tenaga kerja menunjukkan tanda-tanda pelambatan dengan tingkat pengangguran yang melewati 5%. Dampaknya, rumah tangga dan bisnis cenderung menahan pengeluaran, sehingga permintaan domestik tetap lesu meskipun konsumsi rumah tangga menunjukkan beberapa tanda stabilisasi. Kondisi ini juga mendorong keluaran ekonomi untuk tidak terlalu banyak bergantung pada satu segmen saja.
Kondisi permintaan yang melambat sudah terasa di berbagai sektor kerja, membuat banyak rumah tangga bergantung pada tabungan untuk menjaga kebutuhan sehari-hari. Ketidakpastian belanja publik memperkuat kehati-hatian pelaku usaha, yang memilih menunda investasi jangka menengah. Secara umum, dinamika ini mencerminkan transisi dari momentum pembukaan ke fase perbaikan yang lebih berkelanjutan.
Meskipun tekanan terlihat, kebijakan fiskal tetap berhati-hati dengan fokus pada program bantuan terarah bagi mereka yang paling terdampak. Dengan normalisasi kejutan energi, peluang pemulihan pasar bisa lebih cepat seiring meningkatnya kepercayaan pelaku ekonomi dan pelaksanaan reform yang tepat sasaran.
Prospek pemulihan sangat bergantung pada kelanjutan normalisasi harga energi dan kesinambungan kebijakan fiskal yang terarah. Otoritas terus menahan belanja secara selektif sambil menjaga jaring pengaman sosial agar tidak menimbulkan tekanan fiskal berlebih. Kebijakan ini berupaya menyeimbangkan stabilitas harga dengan dukungan bagi pertumbuhan lapangan kerja.
Garis besar proyeksi menunjukkan pertumbuhan pada 2026-2027 berada di bawah potensi, namun masih ada ruang bagi pemulihan pasar yang relatif cepat jika faktor energi mereda dan kepercayaan investor pulih. Hal ini menggarisbawahi pentingnya sinergi kebijakan fiskal, kebijakan moneter, dan reform struktural untuk menjaga momentum.
Risiko utama tetap inflasi tinggi dan ketidakpastian fiskal jangka menengah. Bank sentral dan pembuat kebijakan perlu menjaga keseimbangan antara stabilitas harga, penciptaan lapangan kerja, dan visibilitas bagi pelaku pasar untuk menjaga momentum pertumbuhan. Upaya kolaboratif ini menjadi kunci untuk mengatasi tantangan stagflasi dan mendorong pemulihan yang berkelanjutan.