
Lembaga keuangan global TD Securities baru-baru ini mengubah pandangan mereka terhadap Won Korea (KRW) menjadi bearish atau cenderung melemah. Mereka memproyeksikan bahwa pasangan mata uang USD/KRW akan menemukan area support kuat di sekitar level 1.400. Penguatan mata uang Negeri Ginseng yang terjadi beberapa waktu lalu kini dinilai mulai kehilangan momentum di tengah perubahan dinamika pasar global.
Para analis di Cetro Trading Insight mencermati bahwa TD Securities telah mengambil langkah taktis dengan membuka posisi short untuk KRW terhadap Dolar AS (USD) dan Yen Jepang (JPY) melalui instrumen Non-Deliverable Forward (NDF). Keputusan ini diambil setelah melihat valuasi KRW yang sudah tergolong terlalu mahal (stretched valuation) setelah reli beberapa pekan terakhir. Pasar kini bersiap menghadapi potensi koreksi teknikal pada mata uang Korea Selatan tersebut.
Bagi para pelaku pasar yang memantau pergerakan forex melalui aplikasi resmi Cetro, pergeseran sentimen ini menjadi sinyal penting untuk mengantisipasi volatilitas di pasar Asia. Pelemahan KRW ini diproyeksikan akan membuka peluang bagi penguatan USD/KRW dalam jangka pendek hingga menengah. Para trader disarankan untuk terus memantau perkembangan kebijakan moneter dari Bank of Korea guna menyelaraskan strategi trading mereka.
Faktor utama di balik sikap bearish TD Securities terhadap Won Korea adalah melambatnya momentum penguatan mata uang tersebut. Selain itu, ada korelasi negatif yang unik antara pergerakan valuta asing KRW dengan kinerja saham-saham sektor kecerdasan buatan (AI) di bursa lokal. Setelah sempat terapresiasi tajam, nilai tukar KRW kini dinilai sudah tidak mencerminkan fundamental ekonomi riil secara akurat.
Ketika sentimen terhadap saham teknologi dan AI mulai stabil pasca rilis laporan keuangan kuartal kedua di Amerika Serikat, tekanan terhadap KRW mulai meningkat. Ketidakseimbangan arus modal asing yang masuk ke bursa saham KOSPI tanpa lindung nilai (hedging) valas juga menjadi perhatian. Fenomena ini membuat KRW menjadi rentan terhadap pembalikan arah sentimen global secara tiba-tiba.
Di sisi lain, tim analis Cetro Trading Insight menambahkan bahwa posisi KRW saat ini memang tergolong mahal jika disandingkan dengan mata uang utama lainnya seperti JPY dan USD. Dengan meredanya euforia sektor teknologi, aliran dana masuk kemungkinan tidak akan sekencang periode sebelumnya. Hal ini semakin memperkuat tesis bahwa USD/KRW akan segera memantul dari area support saat ini.
Meskipun proyeksi bearish terhadap KRW cukup kuat, TD Securities juga mengidentifikasi beberapa risiko utama yang dapat menggagalkan skenario ini. Risiko terbesar datang dari arus masuk modal asing ke pasar ekuitas Korea Selatan yang dilakukan tanpa lindung nilai nilai tukar. Jika investor asing terus memborong saham Korea tanpa melakukan hedging USD, hal tersebut akan mendorong apresiasi KRW secara tidak terduga.
Selain itu, faktor repatriasi dana oleh korporasi besar Korea Selatan juga berpotensi memberikan dorongan instan bagi penguatan mata uang lokal. Jika perusahaan-perusahaan raksasa multinasional Korea membawa pulang keuntungan mereka dalam jumlah besar dalam tiga bulan ke depan, KRW berpotensi tampil lebih unggul (outperform) dibandingkan USD maupun JPY. Kondisi ini dapat memicu tekanan short-squeeze bagi para penjual KRW.
Oleh karena itu, para trader yang bertransaksi menggunakan platform Cetro dihimbau untuk menerapkan manajemen risiko yang ketat. Selalu gunakan stop loss yang rasional untuk mengantisipasi pembalikan arah akibat sentimen repatriasi korporasi. Memantau volume transaksi di bursa saham KOSPI juga dapat menjadi indikator pembantu untuk melihat kekuatan arus modal asing yang masuk.