Laporan FX Weekly Dispatch dari TD Securities menegaskan bahwa arah dolar AS berpotensi melemah dalam beberapa kuartal mendatang. Mereka menilai bahwa pertumbuhan global yang lebih solid mengurangi daya tarik USD sebagai aset lindung nilai, sehingga profil risiko–imbalan lebih menguntungkan bagi penurunan dolar. Analisis ini menekankan bahwa risiko terkait perlambatan atau perubahan kebijakan dapat memantik pergeseran aliran modal menuju mata uang mitra yang lebih kencang.
Meski dolar telah lama didorong oleh status safe-haven, pandangan tersebut menyoroti bahwa dinamika global saat ini memberi peluang bagi mata uang lain untuk menguat terhadap USD. Analis menilai peluang bagi penurunan USD terhadap pasangan utama seperti EUR, GBP, AUD, dan SEK akan meningkat seiring perbaikan pertumbuhan dunia dan ekspektasi kebijakan moneter yang lebih berimbang. Keberlanjutan tren ini bergantung pada bagaimana pasar menerjemahkan sinyal-sinyal tersebut ke dalam arus perdagangan valuta asing.
Secara garis besar, pandangan jangka panjang menunjukkan bahwa posisi USD sebagai safe haven akan semakin berkurang pada 2026. Struktur ini dipicu konvergensi antara dinamika pertumbuhan AS dengan ekonomi global serta tingkat suku bunga global yang lebih rendah, yang pada akhirnya menekan daya tarik USD jika ketahanan ekonomi domestik tidak lagi memberikan dorongan luar biasa. Penilaian ini dikemas untuk menggambarkan kerangka besar pasar valuta asing kedepannya.
Analisis TD Securities menggarisbawahi bahwa pergeseran ini terutama didorong oleh perubahan sikap investor terhadap mata uang safe-haven. Ketika pertumbuhan global terlihat lebih stabil, permintaan terhadap USD sebagai perlindung nilai cenderung menurun, sehingga mata uang mitra yang lebih berimbang menjadi alternatif bagi investor. Hambatan volatilitas juga diyakini menurun, memungkinkan pergerakan harga yang lebih terukur di pasangan utama.
Selain itu, sentimen pasar juga dipengaruhi oleh ekspektasi suku bunga global yang berbeda. Dengan potensi suku bunga AS yang lebih rendah secara relatif terhadap belahan dunia lainnya, kapital cenderung mengalir ke mata uang dengan prospek imbal hasil yang lebih menarik. Hal ini berpotensi memperkuat mata uang seperti EUR, GBP, dan AUD dalam jangka menengah, sambil membatasi kekuatan USD terhadap pasangan utama.
Secara keseluruhan, proyeksi hingga 2026 menekankan penurunan struktural USD karena konvergensi dinamika pertumbuhan dan kebijakan moneternya dengan dinamika global. Di balik angka-angka tersebut, tetap ada ketahanan ekonomi AS yang kuat, meski tidak lagi menjanjikan dorongan luar biasa seperti sebelumnya. Kerangka ini menekankan bahwa pasar akan menilai cash flow, risiko fiskal, dan dinamika perdagangan secara lebih luas dibandingkan fokus pada satu faktor tunggal.
Bagi pelaku pasar, prospek USD yang melemah memperkuat kebutuhan untuk meninjau posisi pada pasangan mata uang utama seperti EURUSD, GBPUSD, dan AUDUSD. Skenario ini mengundang pendekatan jangka menengah dengan eksposur yang lebih seimbang terhadap mata uang yang lebih mungkin menguat jika USD terus melemah. Investor disarankan memperhatikan tren makro dan aliran modal global sebagai panduan utama.
Strategi trading sebaiknya fokus pada manajemen risiko yang ketat dan pemetaan kerangka waktu yang jelas. Penentuan stop loss dan target profit perlu realistis, mengingat profil risiko-imbalan yang diharapkan minimal 1:1.5. Disarankan juga untuk diversifikasi posisi agar tidak terlalu berat pada satu sisi pasar, sembari tetap mengikuti dinamika utama USD terhadap mitra utama.
Artikel ini dibuat dengan bantuan alat kecerdasan buatan dan telah ditinjau editor, sehingga pembaca dianjurkan memadukan analisis ini dengan data pasar terkini sebelum mengambil keputusan investasi. Fokus utama adalah memahami bagaimana dinamika pertumbuhan global mempengaruhi arah dolar dan bagaimana hal itu memandu pilihan mata uang utama serta strategi hedging yang lebih efektif.