Harga tembaga naik menuju level rekor seiring kekhawatiran pasokan yang berkelanjutan. Permintaan global untuk logam industri tetap kuat, membantu menopang harga meskipun ada gangguan pasokan yang berkelanjutan. Faktor-faktor ini membuat pasar tembaga tetap volatil dan rentan terhadap perubahan kebijakan atau data produksi.
Para analis komoditas dari ING, bersama Ewa Manthey dan Warren Patterson, menekankan bahwa kapasitas pasokan menjadi faktor utama dalam pergerakan harga akhir-akhir ini. Mereka menggambarkan bagaimana persediaan yang menipis dan hambatan produksi dapat memperpanjang tren bullish tembaga. Sinyal pasar tetap bergantung pada perkembangan di tambang-tambang utama dan dinamika rantai pasokan global.
Data stok tembaga Comex menunjukkan persediaan mencapai rekor tertinggi sepanjang masa setelah berkembang selama 42 minggu berturut-turut. Meski demikian, kapasitas gudang masih belum sepenuhnya memadai untuk menampung lonjakan pasokan, sehingga tekanan harga cenderung berlanjut di pasar luar AS. Investor menantikan pembaruan data persediaan berikutnya untuk melihat apakah tren ini dapat bertahan.
Impor tembaga AS melonjak menjelang kemungkinan tarif, menunjukkan kesiapan pembuat kebijakan untuk menimbang batu sandungan perdagangan terhadap pasokan domestik. Lonjakan impor ini mencerminkan upaya untuk menjaga pasokan tetap cukup meski tekanan tarif mengintai. Pasar tetap waspada terhadap bagaimana kebijakan baru bisa mempengaruhi arus barang lintas negara.
Kondisi persediaan Comex berada pada titik tertinggi sepanjang masa setelah pertumbuhan selama 42 minggu, namun gudang dengan kapasitas total terbatas memperkuat risiko kekurangan. Hal ini menempatkan tembaga dalam posisi rentan terhadap fluktuasi harga jangka pendek. Analisis menunjukkan bahwa jika permintaan global tetap kuat, tren bullish bisa berlanjut dalam jangka menengah.
Ketidakpastian kebijakan perdagangan membuat risiko tambahan bagi harga tembaga. Pasar luar AS menjadi fokus karena perubahan tarif bisa memicu arus masuk baru atau hambatan pasokan. Analisis menunjukkan bahwa dinamika ini bisa mempertahankan tren bullish dalam jangka menengah jika permintaan global tetap kuat.