Tim Ekonomi Eropa Nomura, dipimpin George Buckley, menilai bahwa data payroll Inggris lebih kuat dan pengangguran relatif stabil jika dibandingkan dengan data upah yang lebih lemah serta penurunan pekerjaan penuh waktu. Kondisi ini mencerminkan dinamika tenaga kerja yang sedang mengalami pergeseran di era tekanan energi saat ini.
Para analis berargumen pasar tenaga kerja Inggris memasuki gelombang kejutan energi dengan struktur yang lebih longgar dibandingkan periode 2022, sehingga Bank of England cenderung menjaga suku bunga tetap rendah sambil menjelaskan mekanisme reaksinya melalui komunikasi kebijakan hari ini.
Dalam pandangan mereka, lonjakan pengangguran sepanjang tahun terakhir, yang tertinggi di antara negara-negara maju, seharusnya membatasi pertumbuhan upah walaupun inflasi bisa terdorong lebih tinggi oleh biaya energi. Analisis ini juga menyoroti bahwa saat krisis energi dimulai, kondisi pasar kerja Inggris lebih longgar dan ekonomi lebih rapuh dibandingkan 2022. Analisis ini disusun oleh Cetro Trading Insight.
Meskipun data menunjukkan dinamika yang perlu diwaspadai, para analis memperkirakan BoE akan menahan suku bunga pada pertemuan tengah hari ini, sembari menggunakan pernyataan kebijakan untuk memperjelas fungsi reaksinya terhadap guncangan energi.
Menit rapat, panduan kebijakan, dan komentar anggota MPC diperkirakan akan memberikan gambaran bagaimana Bank nantinya merespons tekanan harga energi di saat perekonomian sedang menyesuaikan diri dengan gangguan tersebut.
Meskipun keputusan moneter tidak diharapkan mengejutkan, evolusi data seperti stabilitas pekerjaan dan perlambatan pertumbuhan upah dapat membentuk konteks kebijakan ke depan. Pelaku pasar mungkin menilai kehati-hatian BoE sebagai sinyal kesiapan untuk menilai dampak energi terhadap inflasi tanpa melonggarkan kebijakan secara terburu-buru.
Secara umum, momentum kerja yang tetap stabil dan pelemahan pertumbuhan upah menciptakan gambaran positif bagi stabilitas inflasi dalam jangka pendek, meskipun faktor energi menambah ketidakpastian.
Kenaikan pengangguran Inggris selama setahun terakhir, yang menjadi yang tertinggi di antara negara maju, berperan penting dalam membatasi laju kenaikan upah meskipun tekanan energi berpotensi mendorong inflasi lebih lanjut.
Poin pentingnya adalah bahwa posisi awal menghadapi krisis energi menunjukkan pasar tenaga kerja lebih longgar dan ekonomi lebih rapuh dibandingkan 2022, sehingga pekerja mungkin menghadapi kendala dalam menawar upah. Dampak kenaikan tagihan energi lebih terasa pada biaya hidup secara langsung. Analisis ini didukung oleh Cetro Trading Insight.