Gejolak geopolitik di Timur Tengah mengguncang pasar energi dunia dengan kecepatan kilat, menempatkan minyak di pusat perhatian investor global. Ketegangan baru memunculkan risiko pasokan yang bisa mengubah alur investasi secara signifikan. Di saat yang sama, pergeseran harga memicu spekulasi tentang arah sektor migas di negara berkembang seperti Indonesia.
Menurut analisis Cetro Trading Insight, lonjakan harga Brent terdorong oleh eskalasi konflik setelah Israel menyerang fasilitas minyak Iran pada 8 Maret. Peristiwa itu menandai serangan langsung pertama terhadap infrastruktur energi Iran dan memicu lonjakan harga di awal pekan.
RHB Sekuritas dalam riset 10 Maret 2026 tetap overweight pada sektor migas, dengan Medco Energi (MEDC) sebagai penerima manfaat utama. Analisis tersebut merefleksikan potensi keuntungan dari reli harga minyak bagi perusahaan hulu yang eksis di pasar domestik maupun internasional.
Selain itu, sektor pelayaran tanker juga bisa meraih manfaat dari lonjakan tarif sewa kapal akibat gangguan rantai pasok energi globally. PT Buana Lintas Lautan Tbk (BULL) disebut berpotensi mendapat keuntungan dari meningkatnya tarif charter tanker.
Lonjakan tarif terlihat pada Very Large Crude Carrier (VLCC) Time Charter Equivalent (TCE), yang diperkirakan mencapai sekitar USD135.000 per hari. Sementara Aframax TCE naik sekitar 126 persen YoY menjadi sekitar USD68.000 per hari, menunjukkan dampak nyata terhadap biaya transportasi minyak global.
Dalam pandangan RHB, meskipun potensi keuntungan tinggi, risiko konflik yang berlarut bisa menekan iklim investasi di Indonesia. Negara ini sebagai importir minyak bersih menghadapi peningkatan risk premium, yang berpotensi menekan minat investor terhadap IHSG dan membebani investasi sektor hulu dalam negeri.
Untuk prospek industri 2026, RHB mempertahankan proyeksi pertumbuhan laba sekitar 65 persen secara tahunan. Medco Energi diperkirakan mencetak pertumbuhan laba paling kuat, sekitar 121 persen, didorong kontribusi segmen pertambangan dan operasional hulu.
Selanjutnya, Perusahaan Gas Negara (PGAS) diproyeksikan tumbuh sekitar 67 persen berkat peningkatan volume distribusi gas dan tanpa beban penurunan nilai aset. AKR Corporindo (AKRA) diperkirakan lebih moderat, dengan pertumbuhan sekitar 10 persen, berbeda dengan dinamika perusahaan migas yang lebih agresif.
Di sisi lain, kinerja 2025 menunjukkan variasi di kalangan pebisnis migas. Laba ELSA stagnan akibat penurunan nilai aset pada segmen hulu, sementara laba PGAS turun sekitar 37 persen akibat beban penurunan nilai aset migas sekitar USD100 juta. Meski begitu, proyeksi 2026 tetap positif bagi sebagian besar pelaku migas, menurut RHB.