Tokyo CPI mengukur perubahan harga barang dan jasa yang dibeli rumah tangga di wilayah Tokyo, dengan pengecualian makanan segar karena volatilitas cuaca. Data ini sering dianggap sebagai indikator awal untuk laju CPI nasional Jepang. Pasar memanfaatkan rilis ini untuk menilai tekanan inflasi domestik dan arah kebijakan moneter yang mungkin ditempuh Bank of Japan.
Untuk Februari, Tokyo CPI eks-Fresh Food diproyeksikan naik 1.7 persen secara tahunan saat ini dibandingkan 2.0 persen pada Januari. Lonjakan yang lebih lambat dari bulan sebelumnya bisa memberikan gambaran bahwa tekanan inflasi di wilayah Tokyo sedang mereda. Namun, variabel tahun ke tahun tetap menjadi fokus utama pelaku pasar.
Karakter leading indicator membuat angka Tokyo CPI sering menjadi sinyal pendahulu untuk CPI nasional, serta untuk mengkomunikasikan harapan pasar terhadap pelonggaran atau pengetatan kebijakan BoJ. Rilis ini memberi pedoman pada pergerakan imbal hasil serta arus modal di pasar mata uang Jepang dan global.
USD/JPY sedang bergerak dalam nuansa negatif menjelang rilis Tokyo CPI, dengan yen menguat di tengah narasi hawkish dari pejabat BoJ. Pasangan ini cenderung melemah karena kekhawatiran bahwa data inflasi yang lebih kuat dari ekspektasi bisa memperkuat kebijakan hawkish, yang mendukung yen.
Jika data ini keluar lebih panas dari perkiraan, yen berpotensi menguat lebih lanjut dan menekan USDJPY ke bawah. Level harga kunci untuk pengamatan mencakup resistansi pertama di 156.82, diikuti 157.66 sebagai hambatan berikutnya, dan 159.23 sebagai target lanjut jika momentum berubah arah.
Sisi bawahnya mencakup support di 155.35 untuk memberikan lantai bagi pembeli, diikuti 154.45 sebagai titik perhatian jika tekanan turun berlanjut. Pergerakan lebih dalam bisa menembus ke bawah menuju 152.64 yang merepresentasikan beberapa level teknikal penting yang sebelumnya menjadi pembatas.
Rilis inflasi seperti Tokyo CPI meningkatkan volatilitas di pasar forex, sehingga manajemen risiko menjadi elemen utama. Trader disarankan menempatkan stop loss yang proporsional dan membatasi ukuran posisi sesuai kepatuhan terhadap rencana manajemen risiko pribadi. Selain itu, penting untuk menghindari overtrade saat data rilis pertama kali keluar.
Secara skenario, jika CPI lebih panas dari ekspektasi, peluang pergerakan USDJPY ke arah melemah (yen menguat) dapat dimanfaatkan dengan pendekatan short pada USDJPY. Dalam skenario lain, jika data lebih lemah, potensi kenaikan USDJPY bisa muncul. Trader perlu menilai dinamika pasar secara menyeluruh, termasuk volatilitas spread dan likuiditas saat rilis.
Rencana trading sebaiknya mempertimbangkan tingkat resistance dan support yang disebutkan, serta indikator teknikal seperti rata-rata pergerakan relevan. Meskipun ada referensi pada angka-angka kunci, keputusan akhir harus didasarkan pada realisasi data, konfirmasi pola, dan toleransi risiko masing-masing trader. Sinyal ini bersifat umum dan tidak mengandung rekomendasi spesifik untuk eksekusi pada saat rilis.